28
Jun
12

Menjemput Ramadhan 2012

بسم الله الرحمن الرحيم

…يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang Bulan Sabit (Hilal). Katakanlah, “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji…” (Q.S. al-Baqarah: 189).

Nampaknya tahun ini umat Islam di Indonesia melaksanakan ibadah shaum Ramadhan 1433 H akan mengalami perbedaan. Ada yang berbeda 1, 2, atau 3 hari sebelum ditetapkan oleh pemerintah seperti tahun lalu Tarekat Naqsabandiyah yang ada di Sumatera Barat bahkan ada juga menetapkan shaum 1 hari setelah ditetapkan oleh pemerintah yang terjadi pada Tarekat Syattariah dimana pemerintah menetapkan shaum Ramadhan 1432 H pada tanggal 1/8 akan tetapi Tarekat Syattariah melaksanakan shaum bertepatan dengan tanggal 2/8 satu hari setelah ditetapkan Pemerintah.

Wilayah Indonesia tidak diberi warna yang artinya tidak bisa dilihat. Credit: Accurate Times.

Ijtima’ atau konjungsi saat Matahari, Bulan, dan Bumi dalam keadaan sejajar pada Kamis, 19 Agustus 2012 terjadi pada pukul 11:24 WIB sedangkan Bulan terbenam (18:01 WIB) setelah Matahari terbenam (17:53 WIB) sehingga umur Bulan saat konjungsi sampai terbenam di ufuk Barat 6j 37m (6 jam 37 menit). Ketinggian Hilal di seluruh Indonesia pun berbeda-beda dan dinyatakan positif berada di atas ufuk atau horizon dari Timur ke Barat berkisar 0o 04’ s.d 1o 38’ di mana Indonesia bagian Barat memiliki ketinggian yang paling tinggi. Berdasarkan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darusalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) tidak mungkin bisa diru’yat (dilihat) walaupun memiliki sudut pisah antara Matahari dan Bulan (elongasi) sebesar 4o 28’ dimana posisi Bulan berada di Selatan Matahari (pengamat di Pelabuhan Ratu). Apalagi berdasarkan kriteria Odeh yang menyatakan tidak bisa dilihat meskipun dengan bantuan peralatan optik karena kecerahan Hilal tidak cukup karena illuminasi Hilal (kecerahan tanduk Bulan) sebesar 0,00215 seperti pada gambar di samping dimana Indonesia tidak diberi warna yang artinya tidak bisa dilihat apalagi kita hanya bisa berkesempatan untuk mencari Hilal selama 8 menit saja.

Lantas apa artinya dengan semua ini? Berdasarkan prinsip Ru’yat yang menjadi patokan oleh ormas Islam Nahdhatul Ulama (NU) dalam menetapkan shaum Ramadhan – hal ini tentu saja tidak bisa dilihat dengan mata ataupun optik karena ketinggian dan illuminasi Hilal yang terlalu kecil, sehingga bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari. Ru’yat pun akan digelar kembali keesokan harinya bertepatan pada hari Jum’at, 20 Juli 2012 untuk mendapatkan citra Hilal karena ketinggian Hilal sangat tinggi mencapai 17o dan usia Hilal pun semakin tua sehingga sangat mudah untuk dilihat menggunakan mata telanjang seperti pada gambar disamping yang diarsir menggunakan warna hijau, artinya malam Sabtu merupakan pelaksanaan shalat tarawih pertama dan ibadah shaum bertepatan pada Sabtu, 21 Juli 2012.

Keesokan harinya wilayah Indonesia diarsir berwarna hijau sehingga ru’yat bisa dilakukan. Credit: Accurate Times.

Tidak seperti NU, Muhammadiyah melaksanakan shalat tarawih pertama pada malam Jum’at – hal ini disesuaikan dengan prinsip yang digunakan  yaitu Wujudul Hilal karena Matahari lebih dulu terbenam daripada Bulan (ijtima’ qablal ghurub) dan ketinggian Hilal pun positif di atas ufuk atau horizon walaupun tidak bisa dilihat oleh mata. Sesuai dengan namanya, kriteria yang dipakai wujudnya atau adanya Hilal seperti halnya kita mengimani wujud/adanya Allah walaupun kita tidak bisa melihat. Sehingga pelaksanaan ibadah shalat tarawih pertama pada malam Jum’at, 19/7 dan shaum bertepatan pada hari Jum’at, 20/7.

Nampaknya Imkanur Ru’yat akan melaksanakan ibadah shalat tarawih dan shaum sama dengan NU, prinsip yang digandrungi oleh pemerintah dan beberapa ormas Islam lainnya seperti PERSIS (Persatuan Islam) melaksanakan shalat tarawih pertama pada hari Jum’at, 20/7 (malam Sabtu) dan ibadah shaum hari Sabtu 21/7. Menurut kriteria ini, ketinggian dan illuminasi Hilal sangat kecil sehingga tidak memungkinkan untuk diru’yat. Perbedaan antara ru’yat dan imkanur ru’yat dari segi praktek lapangan dimana keputusan final pada ru’yat – berhasil atau tidaknya dilihat baik oleh mata telanjang maupun dengan bantuan optik, artinya walaupun menurut perhitungan ketinggian dan illuminasi Hilal besar sehingga bisa diamati baik oleh mata telanjang dan optik tetapi pada kenyataannya terhalang atau tertutupi oleh awan – sehingga bulan Sya’ban harus digenapkan menjadi 30 hari dan shaum pun dapat dilaksanakan lusanya. Berbeda halnya dengan imkanur ru’yat – walaupun tertutupi oleh awan ataupun kabut yang sangat tebal sekalipun sehingga tidak bisa dilihat akan tetapi menurut perhitungan ketinggian dan illuminasi Hilal besar sehingga memungkinkan untuk bisa dilihat maka keesokan harinya shaum.

Citra Hilal hasil observasi awal Rajab 1430 H dari Reabold Hill (Australia). Credit: Rukyatul Hilal Indonesia.

Penulis menggunakan Ephemeris Hisab Rukyat 2012 dan software Accurate Times sebagai referensi dalam pembuatan tulisan ini. Dan pada akhirnya kita tinggal menunggu sidang itsbat (penetapan) yang akan ditetapkan oleh pemerintah, apakah seperti yang dijelaskan ataukah akan mengalami perubahan. Mari kita simak liputan beritanya pada Kamis sore tanggal 19 Juli 2012. Silahkan klik di sini untuk mendownload makalah ini via ziddu.

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين


0 Responses to “Menjemput Ramadhan 2012”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: