14
Aug
11

Model Jagat Raya

بسم الله الرحمن الرحيم

            Jauh sebelum ditemukannya teleskop, semenjak Allah menciptakan Nabi Adam A.S. sebagai manusia pertama yang diberi ilmu langsung oleh Yang Mahamengetahui[1] untuk mengenal apa yang Allah ciptakan kemudian diwariskan kepada anak-cucunya. Setelah keturunan Nabi Adam A.S. semakin banyak, mereka menyimpang dari koridor yang telah diajarkan oleh Nabi Adam A.S.. Kemudian Allah mengutus Nabi Idris A.S. dan ilmu pun diteruskan dan dikembangkan oleh Nabi Idris A.S. sebagai orang pertama yang menulis dengan pena, penulis baju (pembatik) dan pakaian yang dijahit, observasi dan menghitung pada ilmu perbintangan (Falakiy/Astronom)[2], bercocok tanam, mengajarkan berbagai benih (botani), menentukan musim dan sebagainya. Nabi Idris A.S. juga dikenal sebagai Osiris yang kemudian dikultuskan menjadi Dewa Mesir (yakni setelah para pendeta mendewakannya) [3] setelah Allah mengangkatnya ke langit[4]. Semenjak itulah banyak mitos-mitos ataupun cerita-cerita yang berkembang dan menyimpang dari ajaran Nabi Idris A.S. baik dari lini sosial maupun kepercayaan termasuk pada ilmu perbintangan yang begitu besar pengaruhnya.

            Beberapa bangsa, seperti Bangsa Mesir, Babilonia, Cina, dan Yunani secara teliti mengamati benda-benda langit dan pergerakannya. Bangsa Yunani mengamati bahwa di langit ada benda-benda yang kelihatan bergerak relatif terhadap bintang-bintang. Mereka menamakan benda-benda langit ini sebagai Planeten, yang berarti “Pengelana”. Inilah yang sekarang kita kenal sebagai Planet-planet mulai dari Merkurius sampai Neptunus. Tokoh yang pertama mengembangkan kosmologi[5] semacam ini adalah Thales dari Miletus (sekitar 629–555 SM) yang sering disebut sebagai filsuf Yunani dan astronom pertama yang berhasil mengembangkan metode survei dan trigonometri yang dipelajari dari Bangsa Babilonia dan Mesir kemudian diterapkan untuk benda-benda langit[6].

            Sebagian besar pemikir Yunani mengerti bahwa sebenarnya Bumi itu berbentuk bola, bukan datar. Bahkan salah seorang ahli ilmu perbintangan mereka menghitung dengan cukup teliti ukuran bumi dengan menggunakan metode geometri. Namun, beberapa ahli ilmu perbintangan Yunani memahami jagat raya dengan cara lain. Pada abad ke-5 sebelum Masehi ahli ilmu perbintangan Yunani, Anaxagaros, memutuskan bahwa matahari, bumi, dan planet-planet bukanlah sekedar cahaya di langit. Alih-alih, ia bahkan menggambarkannya sebagai benda-benda padat seperti Bumi.

            Satu abad kemudian, pemikir Yunani Heraclides, mempersembahkan gagasan baru yang lain. Ia menyatakan bahwa bumi bukannya tinggal diam. Sebaliknya, tulis Heraclides, bumi berputar – yaitu berputar seperti sebuah gasing. Ia juga menyatakan bahwa planet-planet berputar mengelilingi Matahari. Namun, ia masih berpikir bahwa Matahari, dengan keluarga planetnya, berputar mengelilingi bumi.

            Beberapa tahun kemudian Aristarchus dari Samos, melangkah lebih jauh menuju suatu pandangan jagat raya yang modern. Ia menyatakan  bahwa bumi bukanlah pusat semua benda. Ia malah berpikir bahwa bumi itu berputar mengelilingi Matahari[7].

A.    Model Antroposentris

            Jauh sebelum Bangsa Yunani menggagas model jagat raya, semenjak manusia memperhatikan langit untuk pertama kalinya, timbullah kesan bahwa alam semesta ini bergerak secara teratur dan memiliki titik sentral sebagai pusat alam semesta. Ketika pergerakan benda-benda langit itu diperhatikan secara seksama – seolah-olah pergerakan benda langit itu mengelilingi  (memutari manusia). Dilihat di Timur sebagai titik terbit kemudian berkulminasi lalu tergelincir dan terbenam di arah barat dan seterusnya.  Dari gambaran ini manusia menyimpulkan bahwa alam semesta bergerak mengelilingi manusia sebagai titik sentral alam semesta sehingga disebut dengan Antroposentris. Antroposentris sendiri berasal dari bahasa Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti “manusia” atau “orang”[8] sedangkan sentris yang berarti kontrol dalam bahasa Yunani κέντρον (kentron = pusat).

B.     Model Philolaus

            Philolaus yang hidup pada akhir abad ke-5 SM berpendapat bahwa pusat peredaran benda-benda antariksa ditempati oleh Pusat Api Raksasa (a Huge Central Fire). Sekeliling Pusat Api ini bergeraklah Bumi setiap hari dengan lintasan yang berbentuk lingkaran. Ia berpendapat bahwa Matahari, Bulan, dan bintang-bintang bergerak pula mengedari Pusat Api ini. Selain benda-benda antariksa seperti disebutkan di atas, Philolaus masih menyebut-nyebut pula adanya benda antarika lain, yang disebut Bumi Imbangan (Counter Earth), sebab letak benda antariksa tersebut seolah-olah mengimbangi kedudukan Bumi[9].

            Sebelum itu, Pythagoras (580-500 SM) yang pertama mengembangkan gagasan bahwa alam semesta mengikuti hukum-hukum yang bersifat kuantitatif. Dia menyatakan bahwa masing-masing benda langit, yakni Bulan, Matahari, Bumi, dan Planet-planet, terletak pada bola-bola konsentris (sepusat) yang berputar mengitari pusat alam semesta[10].

C.    Model Geosentris

            Kepercayaan umum lainnya orang-orang zaman dahulu, termasuk orang Yunani adalah bahwa pusat jagat raya itu adalah Bumi. Karena memang begitulah tampaknya. Benda-benda langit tampak mengelilingi Bumi. Planet-planet menyerupai titik-titik cahaya yang setiap malam bergerak lambat-laun di antara bintang-bintang. Bintang-bintang itu tampaknya juga beredar mengelilingi bumi. Kalau kita sama sekali tidak mengetahui ilmu perbintangan, akan wajarlah kalau kita berpendapat, seperti halnya orang-orang zaman dahulu, bahwa bumi adalah pusat segala sesuatu – pusat jagat raya[11].

            Seorang ilmuwan Yunani pada abad ke II sekitar tahun 140 SM bernama Claudius Ptolemeus yang berasal dari Alexandria di Mesir, mengumpulkan semua pengetahuan perbintangan dan ilmu-ilmu lain pada zamannya ke dalam satu seri buku.

            Gambar jagat raya yang dikembangkannya dikenal sebagai sistem Ptolemeus, yang merupakan pandangan tentang jagat raya yang diterima umum selama kira-kira seribu tiga ratus tahun. Namun, jauh sebelum Ptolemeus mengusulkan modelnya – Kosmolog Yunani kuno yaitu Plato, Eudoxus, dan Aristoteles[12] terlebih dahulu menyadari hal itu. Bahkan ketika teleskop belum ditemukan, Copernicus telah mengemukakan teorinya sendiri, yang menggambarkan bagaimana planet mengelilingi Matahari di tahun 1543. Galileo mengetahui hal ini, tapi tetap yakin akan pandangan aliran Aristoteles seperti yang dikukuhkan oleh Ptolemy[13].

            Dalam sistem Ptolemeus itu Bulan, Matahari, Bintang-bintang, dan Planet-planet diperkirakan melalui jalan-jalan yang melingkar sempurna mengelilingi Bumi. Memang untuk pengertian ini tidak ada alasan ilmiah. Hal itu hanya disesuaikan dengan gagasan orang Yunani bahwa lingkaran merupakan bentuk yang sempurna[14]. Akan tetapi, beberapa ahli ilmu

perbintangan Yunani menyadari bahwa perjalanan Planet, atau orbit, tidak benar-benar menyerupai lingkaran yang sempurna di sekeliling Bumi. Oleh karena itu, para pengikut Ptolemeus berusaha memikirkan cara untuk menerangkan fakta ini.            Ada satu hal lagi yang tampak “salah” mengenai cara bergerak beberapa Planet di langit. Kadang-kadang Planet-planet itu sama sekali tidak tampak berputar mengelilingi Bumi, tetapi bergerak mundur.

            Dalam buku yang berjudul Almagest, Ptolemeus menjelaskan bahwa semua benda langit bergerak melingkari sebuah titik, dan lintasan benda ini disebut episikel (epicycle). Episikel bergerak dalam lingkaran lebih besar yang disebut deferent. Bumi bukan pusat deferent, melainkan terletak tidak terlalu jauh dari pusat deferent, yakni pada titik yang disebut equant[15].

            Pengertian episiklus yang digunakan dalam Ptolemeus memang rumit. Tidak terdapat alasan ilmiah di belakangnya. Teori ini hanya bermaksud memudahkan orang melukiskan jalan berbagai Planet sebagai suatu sistem lingkaran yang sempurna[16].

D.    Model Heliosentris

            Gagasan yang disarankan oleh Aristarchus, yaitu bahwa Bumi sesungguhnya bergerak di ruang angkasa mengelilingi Matahari, adalah sangat aneh bagi orang-orang pada zamannya. Sehingga kepercayaan umum masih tetap bahwa bumi itu diam dan teori Aristarchus dihiraukan.             Model Geosentris juga diterima oleh para saintis Islam sebelum al-Biruni sekalipun seperti ar-Razi, Ibnu Sina, dan bahkan al-Farabi menegaskan bahwa Bumi “tidak bergerak dari tempatnya, tidak pula bergerak di tempatnya.” Secara rinci dari pengamatan dan perhitungan pribadinya, al-Biruni meragukan pernyataan tegas tersebut. Al-Biruni mengemukakan konsepnya sendiri tentang kemungkinan gerak Bumi seraya berkata “Ajaran bahwasannya Bumi itu diam adalah satu di antara dasar penting astronomi, dogma para astronom Hindu, tetapi ini memberikan banyak kesukaran besar.”[17] Bahkan al-Biruni berusaha menggunakan eksperimen untuk membuktikan gerakan Bumi. Pada karyanya “Tentang Berbagai Cara Pembuatan Jenis-jenis Astrolabe” al-Biruni melukiskan beberapa jenis astrolabe, yang telah dibuat oleh Abu Said Sigizi. Satu dari astrolabe ini dibuat berdasarkan prinsip yang mempertimbangkan gerakan Bumi. Menunjuk sambil memuji ide yang telah diterapkan dalam kontruksi astrolabe, al-Biruni menulis: “ Saya sudah melihat, pada Abu Said ada astrolabe jenis lain daripada yang lain. Astrolabe ini sederhana, tetapi rumit juga karena ada astrolabe Selatan dan astrolabe Utara. Abu Said menamakannya al-Zanraki – bentuk perahu. Saya menganggap ini suatu penemuan yang sangat indah, berdasar pada prinsip keyakinan kuat dalam hal gerakan Bumi, dan bukan gerakan atap-langit.”. Selain astrolabe, al-Biruni melakukan eksperimen yang berkaitan dengan kemiringan ekliptika dan penentuan garis bujur apogea Matahari untuk mempertegas heliosentris.[18]

            Pada abad ke-15, terjadilah revolusi besar dalam model  Tata surya seperti yang diusulkan oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543) kemudian menyebarkan idenya di antara rekan sejawatnya. Namun demikian, ia menolak menerbitkan idenya meskipun mendapat dukungan dari teman-temannya. Akhirnya ia menyajikan model Heliosentris salinan edisi pertama bukunya ‘About the Revolutions of the Heavenly Bodies’, “De Revolutionibus Orbium Caelestium” (Tentang Revolusi Berbagai Bola Langit) pada hari kematiannya, 24 Mei 1543[19] setelah menghabiskan banyak waktu bekerja sebagai petugas katedral di kota kecil Frauenburg (sekarang Frombork) di Pantai Baltic, Polandia[20]. Dalam bukunya Ia mengungkapkan hutang budinya pada al-Battani perihal trigonometri De Scienta Stellarium De Numeris Stellarium et motibus dan al-Zarqali dan mengutip karya mereka beberapa kali[21]. Copernicus melihat bahwa model Ptolemeus terlalu mengada-ada dan terlalu rumit. Ia tidak percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan sengaja menjadikannya sedemikian rumit. Namun, di sisi lain selama bertahun-tahun Galileo merasa ragu atas pandangan aliran Ptolemy tentang Kosmologi. Ketika tinggal di Padua, Galileo tampaknya cenderung sepakat dengan pandangan aliran Copernicus – apalagi ketika Galileo menyempurnakan teleskopnya sehingga pembesarannya 32 kali[22]. Model heliosentris ini cukup menghebohkan dunia ilmiah Eropa pada saat itu, orang yang membantu menyebarkan paham Heliosentris ini oleh Giordano Bruno yang selalu mengejek orang yang meyakini Bumi sebagai pusat alam semesta. Seiring dengan reformasi yang sedang berjalan. Pada tahun 1616, Gereja Katolik melalui Kardinal Bellarmine bereaksi keras lalu memasukkan buku tersebut ke dalam indeks buku hitam (buku terlarang karena dianggap menghujat) dan Kardinal mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa sistem Copernicus ‘salah dan keliru’ karena cukup kesulitan menghadapi Protestan, tanpa mempunyai ahli yang mengkhawatirkannya. Bahkan Galileo dipanggil untuk audiensi pribadi sebelum maklumat resmi diumumkan. Larangan ini baru dicabut tahun 1835[23].

E.     Model Tycho Brahe

            Gagasan Copernicus tentang jagat raya yang berpusat pada Matahari tidak dengan segera diterima oleh kebanyakan ahli astronomi dan masyarakat lainnya. Tycho Brahe[24] misalnya, adalah seorang ahli pengamat perbintangan penting yang hidup pada pertengahan akhir abad ke-16. Ia tidak percaya bahwa Bumi bukan pusat jagat raya. Sebagai gantinya, ia menyarankan bahwa berbagai Planet lainnya berputar mengelilingi Matahari dan seterusnya Matahari berputar mengelilingi Bumi[25].

            Brahe menghabiskan 20 tahun dalam observatorium tanpa dilengkapi teleskop di Pulau Hven, di lepas pantai Denmark. Selama periode ini ia berhasil memetakan 777 Bintang. Menjelang akhir dari kehidupannya yang eksentrik, Brahe ditarik ke Praha (sekarang Republik Cheko), di mana Kaisar Roma Rudolph II menjadi patronnya. Di sini Brahe mendirikan observatorium di sebuah puri bergaya Bohemia dan melanjutkan penelitiannya. Ia dibantu oleh seorang asisten muda yang bernama Johannes Kepler yang kemudian terkenal dengan tiga hukumnya berdasarkan pengembangan dari pengamatan hasil Brahe[26].

Gambar dari manuskrip Tycho Brahe ini bisa diperoleh di http://galileo.rice.edu/sci/brahe.html

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين


[1] Lihat Q.S. al-Baqarah (2): 31-33

[2] ats-Tsa’labi, Muhammad bin Ibrahim an-Naysaburiy. Qishashul Anbiya. 2006. Beirut: Darul Kitab Ilmiyah. hal. 46.

[3] Yunus , Adil Thaha. Jejak-jejak Para Nabi Allah: Berdasarkan Fakta-Fakta Historis dan Temuan-temuan Arkeologis

 Modern . 2006. Bandung: Pustaka Hidayah. hal. 47

[4] Lihat Q.S. Maryam (19): 56-57

[5] Paham tentang struktur alam semesta yang bersifat rasional dan tidak diselubungi hal-hal yang berbau mitologis

[6] Admiranto, Agustinus Gunawan. Menjelajahi Tata Surya. 2009. Yogjakarta: Kanisius. hal. 2

[7] Ilmu Pengetahuan Populer. 2005. Jilid 1.  Jakarta: C.V.  Prima Pretiy,  Grolier International, INC. hal. 3-4

[8]  Wikipedia/Antropologi. Op. cit.

[9] Abdulgani, Sutarya. Bumi Antariksa Astronomi Untuk SMA. 1980. Bandung: Tarate. hal. 22

[10] Menjelajahi Tata Surya. Op. cit. hal. 2-3

[11] Ibid. Menjelajahi Tata Surya. hal. 3

[12] Plato mengungkapkan bahwa semua benda langit bergerak mengitari Bumi yang bulat dalam lintasan berbentuk lingkaran. Ia berpendapat bahwa lingkaran dan bola adalah bentuk geometri yang sempurna karena mereka semua diciptakan oleh makhluk paling sempurna, Tuhan. Seorang murid Plato, Eudoxus – mulai mengembangkan teorinya berdasarkan pengamatan benda-benda langit. Menurut Eudoxus, setiap Planet terletak pada bola-bola konsentris, dan pergerakan Planet disebabkan rotasi bola-bola ini berbeda-beda – efeknya adalah pergerakan Planet sebagaimana diamati Eudoxus, misalnya gerak retrograd (gerak maju mundur) Mars. Setelah Eudoxus, Aristoteles (350 SM) mengembangkan gagasan Eudoxus lebih jauh. Ia berpendirian bahwa Bumi merupakan pusat alam semesta dan menjadi titik pusat peredaran benda-benda langit seperti Matahari, Bulan, dan Planet-planet. Ia mengatakan bahwa alam semesta terdiri dari 55 buah bola sepusat, dan setiap bola menjadi tempat kedudukan satu benda langit. Bola-bola ini masing-masing berputar dengan kecepatan yang berbeda sehingga kadang-kadang ada yang kelihatan bergerak mundur untuk kemudian maju lagi seperti yang diamati pada Mars. Bola terluar dari ke-55 buah bola ini merupakan tempat kedudukan bintang yang tetap diam. Di luar sistem bola, terdapat penggerak utama sistem semesta – yang menurut Aristoteles dinamakan Primum Mobile. (Menjelajahi Tata Surya. Op. cit. hal. 3-4)

[13]  Strathern, Paul. The Big Idea: Galileo & the Solar System.  alih bahasa, Anderas Haryono; editor, Moch. Ridwan. SERI IDE BESAR Galileo & Sistem Tata Surya. Jakarta: Erlangga. 2002. Hal: 20

[14]   Sekarang kita mengetahui bahwa planet bergerak menurut bentuk elips – bentuk seperti lingkaran yang agak dipipihkan – ketika Planet-planet itu bergerak mengelilingi Matahari

[15] Menjelajahi Tata Surya. Op. cit. hal. 4-5

[16] Ilmu Pengetahuan Populer. Op. cit. hal. 4

[17] Kondisi dunia Timur abad pertengahan pada waktu itu bahwa dominasi agama dengan kekuasaan tidaklah terpisahkan. Para astronom Timur terkemuka seperti Hasan Ali Marakashi (abad ke-13), Abu Ali Birdjandi (abad ke-16) dan lain-lainnya berkali-kali menyatakan keheranannya, bahwa pada waktu para ilmuwan besar yang otoritas ilmiahnya tidak diragukan berada pada pihak geosentrisme dan menganggap bahwa Bumi tidak bergerak.

[18] Sadykov, Kh. U. Abu Raihan al-Biruni dan Karyanya dalam Astronomi dan Geografi Matematika.  Penyadur:Mursid Djokolelono, M.Sc. 2007. Jakarta: Suara Bebas. hal. 44-50

[19] Strathern, Paul. The Big Idea: Galileo & the Solar System.  alih bahasa, Anderas Haryono; editor, Moch. Ridwan.

SERI IDE BESAR Galileo & Sistem Tata Surya. Jakarta: Erlangga. 2002. Hal: 47
[20] Pekerjaan ringan ini menjanjikan penghasilan dan kesenangan untuk mewujudkan obsesinya di bidang astronomi. Sungguh aneh, baik observasi maupun ilmu matematikanya tidaklah mendalam. (Rata-rata ia melakukan observasi sekali

dalam satu tahun, dan penghitungannya tentang orbit planet ternyata keliru). Ibid. hal: 44-45.

[21] Zahoor, A. Dominasi Ilmuwan Islam Th. 700-1400 M. 2003. Terjemahan Amdiar Amir, SE. Depok: Bina Mitra Press. hal. 98

[22] Galileo & Sistem Tata Surya. Loc. cit. hal: 44

[23] Menjelajahi Tata Surya. Loc. cit. hal. 4-5

[24] Tycho Brahe sendiri adalah orang aneh. Ketika masih bayi, ia diculik oleh pamannya yang tidak punya anak, dan dibawa ke sebuah kastil yang terpencil di Denmark. Pada usia 12 tahun ia menyaksikan gerhana Matahari. Sejak saat itu ia bersumpah akan mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Sejak saat itu pula ia mempelajari ilmu pengetahuan dengan serius. Pada usia 19 tahun ia berkelahi untuk sebuah argumen matematika, dan waktu itu ia kehilangan hidungnya. Pengabdian ilmiah berikutnya ia lakukan dengan membuat hidung palsu yang terbuat dari perak yang ia desain untuk dirinya sendiri. Galileo & Sistem Tata Surya. Op. cit. hal: 49

[25] Ilmu Pengetahuan Populer. Op. cit. hal. 6

[26] Galileo & Sistem tata Surya. Loc. cit. hal: 50

Materi ini bisa didownload di sini  atau di sini berformat .pdf. Semoga bermanfaat…


3 Responses to “Model Jagat Raya”


  1. December 31, 2011 at 12:56 pm

    saya lebih suka memandang dan menatap masa depan berbanding masal alu,masa lalu pada saya satu perjalanan yg cukup di ambil sebagai pengajarannya saja, secanggih dan semaju apapun masa lalu,nyatanya inilah kemajuan manusia saat ini. sejauh yg kita ketahui manusia sekarang ini adalah yg paling pandai dan termodern. entah kalau pada jaman para nabi sebab kita hanya tau kisahnya lewat Kitab saja,tak ada saksi dan bukti apapun. kalau toh jaman para nabi mereka bisa terbang ke langit tujuh dan tau betul seperti apa alam semesta ini tapi itu tetap masa lalu,tak akan kita bisa kembali ke masa lalu,astronomi harus kedepan,selagi kita melihat kebelkang terus maka indonesia akan tetap terbelakang…

    • January 7, 2012 at 4:30 pm

      menurut saya sih, kita itu tidak boleh meninggalkan peristiwa masalalu dalam mengkaji ilmu astronomi, karena bagaimanapun juga ilmu astronomi kan salah satu dari ilmu purbakala yang masih ada. kaya ilmu FIsika misalnya; dalam fisika kan ada fisika klasik dan fisika moderen dan dibangku sekolah atau kuliah kedua ilmu itu kita pelajari, tidak hanya fisika moderen saja. Rasanya sombong sekali, jika kita hanya ingin mengkaji hal yang disebut moderen saja, karena secanggih apapun pikiran dan alat yang kita gunakan untuk mempelajari astronomi, tetap saja kita itu mempelajari masa lalu karena Astronomi itu ilmu masa lampau yang digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di masa depan. jika seandainya anda pernah membaca mengenai astrologi(ilmu mengenai rasi bintang dan bukan ramalan), arkeoastronomi, dan lain-lain mungkin disitu, kita juga mempelajari mengenai masa lalu.
      Dan untuk pernyataan anda mengenai “entah kalau pada jaman para nabi sebab kita hanya tau kisahnya lewat Kitab saja,tak ada saksi dan bukti apapun”. saya benar-benar tidak setuju karena untuk opsi buktinya: kitab itu sendiri (jadi yang harus dibuktikan kebenarannya adalah kitab itu. dan banyak sekali bukti yang menegaskan alqur’an itu benar firman Allah SWT baik itu menurut ilmu astronomi, kedokteran, dan ilmu2 lainnya), dan saksinya: para rawi (orang yang menyampaikan informasi dari perinstiwa yang dia liat atau dari gurunya) dengan mengkaji dan meneliti sifat, watak, kecerdasan dan hapalan setiap rawi*saksi*(jadi dalam setiap isi peristiwa yang dikitabkan *kitab hadis*, ada susunan para saksi yang dipelajari satu-satu secara hati2 dengan ilmu mustolah(cari tahu!!!)).
      jadi tidak perlu sombonglah!! dengan pengakuan moderen itu. bahkan ilmuwan astronomipun mencoba menghitung umur alam semesta, umur matahari, jumlah galaksi, dengan bukti dan saksi yang hanya berupa tetapan, teori yang bersifat spekulatif dan juga kepercayaan akan kebenaran teori itu sendiri.

      LAMPIRAN
      sebagai salah satu bukti bahwa qur’an itu firman Allah. baca surat Al-An’am ayat 125. disitu disebutkan mengenai: bahwa luar angkasa itu tidak mengandung oksigen dan membuat orang yang naik ke langit itu dadanya akan sesak.
      saya cuman mencoba untuk tidak memisahkan antara faham keagamaan dan faham ilmu pengetahuan. karena ilmu pengetahuan yang sudah diyakini kebenarannya itu dapat dijadikan sebagai penguji agama, apakah agama itu benar atau tidak. dan agama juga menguji ilmu pengetahuan, apakah ilmu itu baik ataukah tidak (karena manusia hanya bisa menyombongkan logika dan teori yang terkadang tidak benar). Dan saya juga penggila science tetapi saya tidak menutup akal budi saya untuk menerima agama sebagai jalan hidup.

    • January 17, 2012 at 11:12 am

      Saya setuju dengan saudara w174rd, mungkin anda lebih tau pembahasan mengenai Supernova. Kajian supernova pun tidak terlepas dengan sejarah, para Astronom mengkaji karakteristik supernova sendiri berdasarkan pemberitaan dari zaman dulu. Sebagai contoh tahun 1006 Masehi pernah terlihat Supernova yang kemudian oleh seorang Falakiy (Astronom) bernama Ali Ibnu Ridwan “merekam” bintang baru tersebut. Jauh sebelum keemasan Islam pun ada laporan Supernova oleh Astronom di China dan setelah itu peristiwa yang pernah terjadi di zaman Galileo pun terlihat supernova yang menggegerkan penduduk yang menyaksikannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: