02
Jul
11

Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal maupun Dzulhijjah

بسم الله الرحمن الرحيم

هو الذي جعل الشمس ضيآء و القمر نورا و قدره منازل لتعلموا عدد السنين و الحساب.

Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.{Q.S. Yunus: 5}

و القمر قدرنـــه منازل حتى عاد كالعرجون القديم. لاالشمس ينبغي لهآ أن تدرك القمر ولاالليل سابق النهار وكل فى فلك يسبحون.

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaranyang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. (39) tidaklah mungkin bagi Matahari mengejar Bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.{Q.S. Yasin: 39-40}.

Q.S. al-Baqarah: 189, Q.S. al-Isra’: 12, Q.S. al-An’am: 96, Q.S. ar-Rahman: 5, Q.S. ar- Ra’d: 2, Q.S. al-Anbiya:33, Q.S. at-Taubah:36 dsb.

عن محمد بن زياد قال سمعت أباهريرة رضي الله عنه يقول قال النبي صلى الله عليه وسلم أو قال أبو القاسم صلى الله عليه و سلم صوموا لرؤيته و أفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين {صحيح البخارى (كتاب الصوم): ٤٧٩}

Dari Muhammad bin Ziyad, ia mengatakan, “Saya mendengar Abu Hurayrah r.a. mengatakan Nabi S.A.W. bersabda atau Ia berkata, Abul Qasim S.A.W. bersabda ‘Shaumlah karena melihatnya (Hilal)dan berbukalah (Iyd) karena melihatnya. Apabila terhalang atas kalian, sempurnakanlah bilangan (bulan)Sya’ban menjadi tiga puluh.’” {Shahih al-Bukhari (Kitab Shaum): 479}[1].

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال إنا أمة أمية لانكتب و لانحسب الشهر هكذا و هكذا يعنى مرة تسعة و عسرين و مرة ثلاثين {صحيح البخارى (كتاب الصوم): ٤٧٩}

Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi S.A.W. sesungguhnya Beliau bersabda: “Sesungguhnya kami adalah umat yang Ummi, kami tidak pandai menulis dan berhitung. Sebulan itu begini dan begini. Maksudnya, kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari. {Shahih al-Bukhari (Kitab Shaum): 479}[2].

Pengertian berbagai metode Hisab yang populer di Indonesia:

Hisab Urfi : dalam bahasa arab, “Urfi” berarti kebiasaan atau kelaziman. Sistem perhitungan kalender yang didasarkan pada rata-rata Bulan mengelilingi Bumi dan ditetapkan secara konvensional[3].

Hisab Taqribi : dalam bahasa arab, “Taqrabu” berarti pendekatan. Sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematis, namun menggunakan rumus-rumus yang sederhana sehingga hasilnya kurang teliti[4]. Kitab Hisab Taqribi: Sulamun Nayirayn, Fathur Rauful Manan, al-Qawaidul Falakiyah.

Hisab Hakiki : “Haqiqi” berarti realitas atau yang sebenarnya. Sistem hisab hakiki ini sudah mulai menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematis serta rumus-rumus terbaru dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru sehingga memiliki tingkat ketelitian standar[5]. Kitab Hisab Hakiki: Hisab haqiqi, Tadzkiroh Al-ihwan Badi’ah Al-mitsal dan Menara Qudus An-nahij Al-hamidiyah Al-khuasial Wafiyah dsb.

Hisab Hakiki Tahkiki : Sistem hisab ini memakai metode perhitungan berdasarkan teori-teori astronomi modern dan ilmu ukur segitiga bola serta berdasarkan pengamatan baru[6]. Kitab Hisab Hakiki Tahkiki: al-falakiyah Nurul Anwar.

Hisab Hakiki Kontemporer : Hisab yang berdasarkan astronomi modern, matematika kontemporer, dan menggunakan alat-alat elektronika modern (software) koreksi-koreksi posisi Bulan dan Matahari lebih kompleks dan lebih teliti[7]. Kitab Hisab Hakiki Kontemporer: Jean Meeus, New Comb, Astronomical Almanac, Mawaqit Ascrip.

Faktor yang dominan dalam penampakan Hilal[8] adalah jarak sudut Bulan-Matahari dan tinggi Hilal saat Matahari terbenam. Orang-orang Babilonia kuno sudah memiliki kriteria sendiri untuk hal ini, bahwa Hilal dapat dilihat saat Hilal mencapai usia lebih dari 24 jam setelah konjungsi. Fotheringham, dengan menggunakan hasil pengamatan orang-orang Yunani, menurunkan kriteria visibilitas Hilal berdasarkan beda azimut Bulan-Matahari dan tinggi Hilal dari ufuk. Telaah Fotheringham ini kemudian dikembangkan oleh Maunder yang selanjutnya disempurnakan lagi dalam Indian Astronomical Ephemeris. Dari ketiga kriteria ini, untuk beda azimut yang membesar, tinggi Hilal dari ufuk yang diperlukan agar Hilal dapat teramati makin berkurang. Jadi tinggi Hilal untuk beda azimut 10 derajat, lebih rendah daripada tinggi hilal bila beda azimutnya 5 derajat.

Seorang berkebangsaan Prancis, A. Danjon, pada tahun 1932 mengadakan telaah atas pengurangan efek tanduk bulan sabit dan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jarak sudut Bulan-Matahari sebesar 7o merupakan batas bawah Hilal dapat teramati oleh mata bugil. Meskipun hasil di atas disempurnakan oleh M. Ilyas, peneliti berkebangsaan Malaysia, pada tahun 1988 yang menghasilkan angka 10,5 derajat untuk jarak sudut Bulan-Matahari pada beda azimut 0o agar Hilal dapat dilihat, keduanya sepakat untuk satu hal, bahwa hilal harus berada pada suatu ketinggian yang cukup untuk dapat dirukyat (diamati) oleh semua orang yang secara geografis berada dalam wilayah (regional) yang sama.

Kaidah penampakan Hilal dalam langit senja di ufuq Barat secara umum adalah: (1) Langit cerah atau cukup cerah berawan tipis (2) Waktu pengamatan telah melewati waktu konjungsi/ijtima’ (3) Waktu penampakan Hilal dalam senja nautika (jarak Zenith Matahari sekitar 95o atau 96o) (4) Pada saat Matahari terbenam dan bahkan Matahari mencapai jarak zenith sekitar 95 atau 96 derajat posisi Bulan masih harus di atas ufuq. Penampakan Hilal umumnya dalam langit senja nautika ketika kedudukan Matahari mencapai 5 atau 6 derajat di bawah ufuq atau di bawah horizon barat. Senja nautika di antara senja sipil dan senja astronomi (5)

Ukuran luas sabit Bulan sedemikian rupa sehingga bisa cukup terang dan mudah dideteksi oleh mata bugil manusia[9].

Pengamatan Pierce: Hilal termuda mempunyai usia 15 jam 33 menit pada tanggal 25 Februari 1990, pertama terlihat jam 23:55 UT[10]. Akan tetapi, umur Hilal termuda yang pernah atau berhasil dirukyat saat umur Hilal 13 jam 24 menit pada tanggal 5 Mei 1989 (6 Mei UT) di Houston, Texas, AS. oleh M. Iqbal Badat (beserta keluarganya) & Saleh al-Thani[11].

Berbagai pandangan mengenai kriteria dan prinsip Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal:

Kriteria Hisab:

  1. Ijtima’ Qabla Fajr
  2. Ijtima’ Qabla Ghurub.
  3. Wujudul Hilal 4. Imkanur Rukyat / Visibilitas Hilal: Kriteria Danjon, Istambul, Ilyas, termasuk LAPAN[12]:

– Beda tinggi Bulan – Matahari (Irtifa’) > 4o

– Jarak sudut Bulan – Matahari (Elongasi) > 6,4o

Prinsip:

  1. Rukyat Global
  2. Wihdatul Mathali
  3. Wilayatul Hukmi

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خير للإسلام والمسلمين



[1] Jumsa, Uum. 2006. Ilmu Falak Panduan Praktis Menentukan Hilal. Bandung: Humaniora. hal: 1

[3] Ibid.

[4] Ilmu Falak Panduan Praktis Menentukan Hilal. Loc. cit. hal: 5

[5] Ibid.

[6] Hilal adalah pantulan sinar Bulan ke Bumi yang berbentuk lengkungan yang sangat tipis pada hari pertama dan ke dua penanggalan bulan Hijriyah

[7] Raharto, Moedji. 2009. Ramadhan 1430 H 29 atau 30 Hari?. Bandung. Bosscha. Makalah ini disampaikan pada hari kamis 20 Agustus 2009 saat observasi Hilal di Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung

[8] Ibid.

[9] Djamaluddin, Thomas. 2006. Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman al-Qur’an. Bandung: Khazanah Intelektual.


[1] al-Bukhariy, Muhammad bin Isma’il. 2003. Shahih al-Bukhariy Kitab Shaum. Kairo: Maktabah Shorouq ad-Dauliyah hal. 479

[2] Ibid. Hal: 479


0 Responses to “Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal maupun Dzulhijjah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: