Archive for the 'Astronomi' Category

28
Jun
12

Menjemput Ramadhan 2012

بسم الله الرحمن الرحيم

…يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang Bulan Sabit (Hilal). Katakanlah, “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji…” (Q.S. al-Baqarah: 189).

Nampaknya tahun ini umat Islam di Indonesia melaksanakan ibadah shaum Ramadhan 1433 H akan mengalami perbedaan. Ada yang berbeda 1, 2, atau 3 hari sebelum ditetapkan oleh pemerintah seperti tahun lalu Tarekat Naqsabandiyah yang ada di Sumatera Barat bahkan ada juga menetapkan shaum 1 hari setelah ditetapkan oleh pemerintah yang terjadi pada Tarekat Syattariah dimana pemerintah menetapkan shaum Ramadhan 1432 H pada tanggal 1/8 akan tetapi Tarekat Syattariah melaksanakan shaum bertepatan dengan tanggal 2/8 satu hari setelah ditetapkan Pemerintah.

Wilayah Indonesia tidak diberi warna yang artinya tidak bisa dilihat. Credit: Accurate Times.

Ijtima’ atau konjungsi saat Matahari, Bulan, dan Bumi dalam keadaan sejajar pada Kamis, 19 Agustus 2012 terjadi pada pukul 11:24 WIB sedangkan Bulan terbenam (18:01 WIB) setelah Matahari terbenam (17:53 WIB) sehingga umur Bulan saat konjungsi sampai terbenam di ufuk Barat 6j 37m (6 jam 37 menit). Ketinggian Hilal di seluruh Indonesia pun berbeda-beda dan dinyatakan positif berada di atas ufuk atau horizon dari Timur ke Barat berkisar 0o 04’ s.d 1o 38’ di mana Indonesia bagian Barat memiliki ketinggian yang paling tinggi. Berdasarkan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darusalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) tidak mungkin bisa diru’yat (dilihat) walaupun memiliki sudut pisah antara Matahari dan Bulan (elongasi) sebesar 4o 28’ dimana posisi Bulan berada di Selatan Matahari (pengamat di Pelabuhan Ratu). Apalagi berdasarkan kriteria Odeh yang menyatakan tidak bisa dilihat meskipun dengan bantuan peralatan optik karena kecerahan Hilal tidak cukup karena illuminasi Hilal (kecerahan tanduk Bulan) sebesar 0,00215 seperti pada gambar di samping dimana Indonesia tidak diberi warna yang artinya tidak bisa dilihat apalagi kita hanya bisa berkesempatan untuk mencari Hilal selama 8 menit saja.

Lantas apa artinya dengan semua ini? Berdasarkan prinsip Ru’yat yang menjadi patokan oleh ormas Islam Nahdhatul Ulama (NU) dalam menetapkan shaum Ramadhan – hal ini tentu saja tidak bisa dilihat dengan mata ataupun optik karena ketinggian dan illuminasi Hilal yang terlalu kecil, sehingga bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari. Ru’yat pun akan digelar kembali keesokan harinya bertepatan pada hari Jum’at, 20 Juli 2012 untuk mendapatkan citra Hilal karena ketinggian Hilal sangat tinggi mencapai 17o dan usia Hilal pun semakin tua sehingga sangat mudah untuk dilihat menggunakan mata telanjang seperti pada gambar disamping yang diarsir menggunakan warna hijau, artinya malam Sabtu merupakan pelaksanaan shalat tarawih pertama dan ibadah shaum bertepatan pada Sabtu, 21 Juli 2012.

Keesokan harinya wilayah Indonesia diarsir berwarna hijau sehingga ru’yat bisa dilakukan. Credit: Accurate Times.

Tidak seperti NU, Muhammadiyah melaksanakan shalat tarawih pertama pada malam Jum’at – hal ini disesuaikan dengan prinsip yang digunakan  yaitu Wujudul Hilal karena Matahari lebih dulu terbenam daripada Bulan (ijtima’ qablal ghurub) dan ketinggian Hilal pun positif di atas ufuk atau horizon walaupun tidak bisa dilihat oleh mata. Sesuai dengan namanya, kriteria yang dipakai wujudnya atau adanya Hilal seperti halnya kita mengimani wujud/adanya Allah walaupun kita tidak bisa melihat. Sehingga pelaksanaan ibadah shalat tarawih pertama pada malam Jum’at, 19/7 dan shaum bertepatan pada hari Jum’at, 20/7.

Nampaknya Imkanur Ru’yat akan melaksanakan ibadah shalat tarawih dan shaum sama dengan NU, prinsip yang digandrungi oleh pemerintah dan beberapa ormas Islam lainnya seperti PERSIS (Persatuan Islam) melaksanakan shalat tarawih pertama pada hari Jum’at, 20/7 (malam Sabtu) dan ibadah shaum hari Sabtu 21/7. Menurut kriteria ini, ketinggian dan illuminasi Hilal sangat kecil sehingga tidak memungkinkan untuk diru’yat. Perbedaan antara ru’yat dan imkanur ru’yat dari segi praktek lapangan dimana keputusan final pada ru’yat – berhasil atau tidaknya dilihat baik oleh mata telanjang maupun dengan bantuan optik, artinya walaupun menurut perhitungan ketinggian dan illuminasi Hilal besar sehingga bisa diamati baik oleh mata telanjang dan optik tetapi pada kenyataannya terhalang atau tertutupi oleh awan – sehingga bulan Sya’ban harus digenapkan menjadi 30 hari dan shaum pun dapat dilaksanakan lusanya. Berbeda halnya dengan imkanur ru’yat – walaupun tertutupi oleh awan ataupun kabut yang sangat tebal sekalipun sehingga tidak bisa dilihat akan tetapi menurut perhitungan ketinggian dan illuminasi Hilal besar sehingga memungkinkan untuk bisa dilihat maka keesokan harinya shaum.

Citra Hilal hasil observasi awal Rajab 1430 H dari Reabold Hill (Australia). Credit: Rukyatul Hilal Indonesia.

Penulis menggunakan Ephemeris Hisab Rukyat 2012 dan software Accurate Times sebagai referensi dalam pembuatan tulisan ini. Dan pada akhirnya kita tinggal menunggu sidang itsbat (penetapan) yang akan ditetapkan oleh pemerintah, apakah seperti yang dijelaskan ataukah akan mengalami perubahan. Mari kita simak liputan beritanya pada Kamis sore tanggal 19 Juli 2012. Silahkan klik di sini untuk mendownload makalah ini via ziddu.

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين

14
Aug
11

Model Jagat Raya

بسم الله الرحمن الرحيم

            Jauh sebelum ditemukannya teleskop, semenjak Allah menciptakan Nabi Adam A.S. sebagai manusia pertama yang diberi ilmu langsung oleh Yang Mahamengetahui[1] untuk mengenal apa yang Allah ciptakan kemudian diwariskan kepada anak-cucunya. Setelah keturunan Nabi Adam A.S. semakin banyak, mereka menyimpang dari koridor yang telah diajarkan oleh Nabi Adam A.S.. Kemudian Allah mengutus Nabi Idris A.S. dan ilmu pun diteruskan dan dikembangkan oleh Nabi Idris A.S. sebagai orang pertama yang menulis dengan pena, penulis baju (pembatik) dan pakaian yang dijahit, observasi dan menghitung pada ilmu perbintangan (Falakiy/Astronom)[2], bercocok tanam, mengajarkan berbagai benih (botani), menentukan musim dan sebagainya. Nabi Idris A.S. juga dikenal sebagai Osiris yang kemudian dikultuskan menjadi Dewa Mesir (yakni setelah para pendeta mendewakannya) [3] setelah Allah mengangkatnya ke langit[4]. Semenjak itulah banyak mitos-mitos ataupun cerita-cerita yang berkembang dan menyimpang dari ajaran Nabi Idris A.S. baik dari lini sosial maupun kepercayaan termasuk pada ilmu perbintangan yang begitu besar pengaruhnya.

            Beberapa bangsa, seperti Bangsa Mesir, Babilonia, Cina, dan Yunani secara teliti mengamati benda-benda langit dan pergerakannya. Bangsa Yunani mengamati bahwa di langit ada benda-benda yang kelihatan bergerak relatif terhadap bintang-bintang. Mereka menamakan benda-benda langit ini sebagai Planeten, yang berarti “Pengelana”. Inilah yang sekarang kita kenal sebagai Planet-planet mulai dari Merkurius sampai Neptunus. Tokoh yang pertama mengembangkan kosmologi[5] semacam ini adalah Thales dari Miletus (sekitar 629–555 SM) yang sering disebut sebagai filsuf Yunani dan astronom pertama yang berhasil mengembangkan metode survei dan trigonometri yang dipelajari dari Bangsa Babilonia dan Mesir kemudian diterapkan untuk benda-benda langit[6].

            Sebagian besar pemikir Yunani mengerti bahwa sebenarnya Bumi itu berbentuk bola, bukan datar. Bahkan salah seorang ahli ilmu perbintangan mereka menghitung dengan cukup teliti ukuran bumi dengan menggunakan metode geometri. Namun, beberapa ahli ilmu perbintangan Yunani memahami jagat raya dengan cara lain. Pada abad ke-5 sebelum Masehi ahli ilmu perbintangan Yunani, Anaxagaros, memutuskan bahwa matahari, bumi, dan planet-planet bukanlah sekedar cahaya di langit. Alih-alih, ia bahkan menggambarkannya sebagai benda-benda padat seperti Bumi.

            Satu abad kemudian, pemikir Yunani Heraclides, mempersembahkan gagasan baru yang lain. Ia menyatakan bahwa bumi bukannya tinggal diam. Sebaliknya, tulis Heraclides, bumi berputar – yaitu berputar seperti sebuah gasing. Ia juga menyatakan bahwa planet-planet berputar mengelilingi Matahari. Namun, ia masih berpikir bahwa Matahari, dengan keluarga planetnya, berputar mengelilingi bumi.

            Beberapa tahun kemudian Aristarchus dari Samos, melangkah lebih jauh menuju suatu pandangan jagat raya yang modern. Ia menyatakan  bahwa bumi bukanlah pusat semua benda. Ia malah berpikir bahwa bumi itu berputar mengelilingi Matahari[7].

A.    Model Antroposentris

            Jauh sebelum Bangsa Yunani menggagas model jagat raya, semenjak manusia memperhatikan langit untuk pertama kalinya, timbullah kesan bahwa alam semesta ini bergerak secara teratur dan memiliki titik sentral sebagai pusat alam semesta. Ketika pergerakan benda-benda langit itu diperhatikan secara seksama – seolah-olah pergerakan benda langit itu mengelilingi  (memutari manusia). Dilihat di Timur sebagai titik terbit kemudian berkulminasi lalu tergelincir dan terbenam di arah barat dan seterusnya.  Dari gambaran ini manusia menyimpulkan bahwa alam semesta bergerak mengelilingi manusia sebagai titik sentral alam semesta sehingga disebut dengan Antroposentris. Antroposentris sendiri berasal dari bahasa Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti “manusia” atau “orang”[8] sedangkan sentris yang berarti kontrol dalam bahasa Yunani κέντρον (kentron = pusat).

B.     Model Philolaus

            Philolaus yang hidup pada akhir abad ke-5 SM berpendapat bahwa pusat peredaran benda-benda antariksa ditempati oleh Pusat Api Raksasa (a Huge Central Fire). Sekeliling Pusat Api ini bergeraklah Bumi setiap hari dengan lintasan yang berbentuk lingkaran. Ia berpendapat bahwa Matahari, Bulan, dan bintang-bintang bergerak pula mengedari Pusat Api ini. Selain benda-benda antariksa seperti disebutkan di atas, Philolaus masih menyebut-nyebut pula adanya benda antarika lain, yang disebut Bumi Imbangan (Counter Earth), sebab letak benda antariksa tersebut seolah-olah mengimbangi kedudukan Bumi[9].

            Sebelum itu, Pythagoras (580-500 SM) yang pertama mengembangkan gagasan bahwa alam semesta mengikuti hukum-hukum yang bersifat kuantitatif. Dia menyatakan bahwa masing-masing benda langit, yakni Bulan, Matahari, Bumi, dan Planet-planet, terletak pada bola-bola konsentris (sepusat) yang berputar mengitari pusat alam semesta[10].

C.    Model Geosentris

            Kepercayaan umum lainnya orang-orang zaman dahulu, termasuk orang Yunani adalah bahwa pusat jagat raya itu adalah Bumi. Karena memang begitulah tampaknya. Benda-benda langit tampak mengelilingi Bumi. Planet-planet menyerupai titik-titik cahaya yang setiap malam bergerak lambat-laun di antara bintang-bintang. Bintang-bintang itu tampaknya juga beredar mengelilingi bumi. Kalau kita sama sekali tidak mengetahui ilmu perbintangan, akan wajarlah kalau kita berpendapat, seperti halnya orang-orang zaman dahulu, bahwa bumi adalah pusat segala sesuatu – pusat jagat raya[11].

            Seorang ilmuwan Yunani pada abad ke II sekitar tahun 140 SM bernama Claudius Ptolemeus yang berasal dari Alexandria di Mesir, mengumpulkan semua pengetahuan perbintangan dan ilmu-ilmu lain pada zamannya ke dalam satu seri buku.

            Gambar jagat raya yang dikembangkannya dikenal sebagai sistem Ptolemeus, yang merupakan pandangan tentang jagat raya yang diterima umum selama kira-kira seribu tiga ratus tahun. Namun, jauh sebelum Ptolemeus mengusulkan modelnya – Kosmolog Yunani kuno yaitu Plato, Eudoxus, dan Aristoteles[12] terlebih dahulu menyadari hal itu. Bahkan ketika teleskop belum ditemukan, Copernicus telah mengemukakan teorinya sendiri, yang menggambarkan bagaimana planet mengelilingi Matahari di tahun 1543. Galileo mengetahui hal ini, tapi tetap yakin akan pandangan aliran Aristoteles seperti yang dikukuhkan oleh Ptolemy[13].

            Dalam sistem Ptolemeus itu Bulan, Matahari, Bintang-bintang, dan Planet-planet diperkirakan melalui jalan-jalan yang melingkar sempurna mengelilingi Bumi. Memang untuk pengertian ini tidak ada alasan ilmiah. Hal itu hanya disesuaikan dengan gagasan orang Yunani bahwa lingkaran merupakan bentuk yang sempurna[14]. Akan tetapi, beberapa ahli ilmu

perbintangan Yunani menyadari bahwa perjalanan Planet, atau orbit, tidak benar-benar menyerupai lingkaran yang sempurna di sekeliling Bumi. Oleh karena itu, para pengikut Ptolemeus berusaha memikirkan cara untuk menerangkan fakta ini.            Ada satu hal lagi yang tampak “salah” mengenai cara bergerak beberapa Planet di langit. Kadang-kadang Planet-planet itu sama sekali tidak tampak berputar mengelilingi Bumi, tetapi bergerak mundur.

            Dalam buku yang berjudul Almagest, Ptolemeus menjelaskan bahwa semua benda langit bergerak melingkari sebuah titik, dan lintasan benda ini disebut episikel (epicycle). Episikel bergerak dalam lingkaran lebih besar yang disebut deferent. Bumi bukan pusat deferent, melainkan terletak tidak terlalu jauh dari pusat deferent, yakni pada titik yang disebut equant[15].

            Pengertian episiklus yang digunakan dalam Ptolemeus memang rumit. Tidak terdapat alasan ilmiah di belakangnya. Teori ini hanya bermaksud memudahkan orang melukiskan jalan berbagai Planet sebagai suatu sistem lingkaran yang sempurna[16].

D.    Model Heliosentris

            Gagasan yang disarankan oleh Aristarchus, yaitu bahwa Bumi sesungguhnya bergerak di ruang angkasa mengelilingi Matahari, adalah sangat aneh bagi orang-orang pada zamannya. Sehingga kepercayaan umum masih tetap bahwa bumi itu diam dan teori Aristarchus dihiraukan.             Model Geosentris juga diterima oleh para saintis Islam sebelum al-Biruni sekalipun seperti ar-Razi, Ibnu Sina, dan bahkan al-Farabi menegaskan bahwa Bumi “tidak bergerak dari tempatnya, tidak pula bergerak di tempatnya.” Secara rinci dari pengamatan dan perhitungan pribadinya, al-Biruni meragukan pernyataan tegas tersebut. Al-Biruni mengemukakan konsepnya sendiri tentang kemungkinan gerak Bumi seraya berkata “Ajaran bahwasannya Bumi itu diam adalah satu di antara dasar penting astronomi, dogma para astronom Hindu, tetapi ini memberikan banyak kesukaran besar.”[17] Bahkan al-Biruni berusaha menggunakan eksperimen untuk membuktikan gerakan Bumi. Pada karyanya “Tentang Berbagai Cara Pembuatan Jenis-jenis Astrolabe” al-Biruni melukiskan beberapa jenis astrolabe, yang telah dibuat oleh Abu Said Sigizi. Satu dari astrolabe ini dibuat berdasarkan prinsip yang mempertimbangkan gerakan Bumi. Menunjuk sambil memuji ide yang telah diterapkan dalam kontruksi astrolabe, al-Biruni menulis: “ Saya sudah melihat, pada Abu Said ada astrolabe jenis lain daripada yang lain. Astrolabe ini sederhana, tetapi rumit juga karena ada astrolabe Selatan dan astrolabe Utara. Abu Said menamakannya al-Zanraki – bentuk perahu. Saya menganggap ini suatu penemuan yang sangat indah, berdasar pada prinsip keyakinan kuat dalam hal gerakan Bumi, dan bukan gerakan atap-langit.”. Selain astrolabe, al-Biruni melakukan eksperimen yang berkaitan dengan kemiringan ekliptika dan penentuan garis bujur apogea Matahari untuk mempertegas heliosentris.[18]

            Pada abad ke-15, terjadilah revolusi besar dalam model  Tata surya seperti yang diusulkan oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543) kemudian menyebarkan idenya di antara rekan sejawatnya. Namun demikian, ia menolak menerbitkan idenya meskipun mendapat dukungan dari teman-temannya. Akhirnya ia menyajikan model Heliosentris salinan edisi pertama bukunya ‘About the Revolutions of the Heavenly Bodies’, “De Revolutionibus Orbium Caelestium” (Tentang Revolusi Berbagai Bola Langit) pada hari kematiannya, 24 Mei 1543[19] setelah menghabiskan banyak waktu bekerja sebagai petugas katedral di kota kecil Frauenburg (sekarang Frombork) di Pantai Baltic, Polandia[20]. Dalam bukunya Ia mengungkapkan hutang budinya pada al-Battani perihal trigonometri De Scienta Stellarium De Numeris Stellarium et motibus dan al-Zarqali dan mengutip karya mereka beberapa kali[21]. Copernicus melihat bahwa model Ptolemeus terlalu mengada-ada dan terlalu rumit. Ia tidak percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan sengaja menjadikannya sedemikian rumit. Namun, di sisi lain selama bertahun-tahun Galileo merasa ragu atas pandangan aliran Ptolemy tentang Kosmologi. Ketika tinggal di Padua, Galileo tampaknya cenderung sepakat dengan pandangan aliran Copernicus – apalagi ketika Galileo menyempurnakan teleskopnya sehingga pembesarannya 32 kali[22]. Model heliosentris ini cukup menghebohkan dunia ilmiah Eropa pada saat itu, orang yang membantu menyebarkan paham Heliosentris ini oleh Giordano Bruno yang selalu mengejek orang yang meyakini Bumi sebagai pusat alam semesta. Seiring dengan reformasi yang sedang berjalan. Pada tahun 1616, Gereja Katolik melalui Kardinal Bellarmine bereaksi keras lalu memasukkan buku tersebut ke dalam indeks buku hitam (buku terlarang karena dianggap menghujat) dan Kardinal mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa sistem Copernicus ‘salah dan keliru’ karena cukup kesulitan menghadapi Protestan, tanpa mempunyai ahli yang mengkhawatirkannya. Bahkan Galileo dipanggil untuk audiensi pribadi sebelum maklumat resmi diumumkan. Larangan ini baru dicabut tahun 1835[23].

E.     Model Tycho Brahe

            Gagasan Copernicus tentang jagat raya yang berpusat pada Matahari tidak dengan segera diterima oleh kebanyakan ahli astronomi dan masyarakat lainnya. Tycho Brahe[24] misalnya, adalah seorang ahli pengamat perbintangan penting yang hidup pada pertengahan akhir abad ke-16. Ia tidak percaya bahwa Bumi bukan pusat jagat raya. Sebagai gantinya, ia menyarankan bahwa berbagai Planet lainnya berputar mengelilingi Matahari dan seterusnya Matahari berputar mengelilingi Bumi[25].

            Brahe menghabiskan 20 tahun dalam observatorium tanpa dilengkapi teleskop di Pulau Hven, di lepas pantai Denmark. Selama periode ini ia berhasil memetakan 777 Bintang. Menjelang akhir dari kehidupannya yang eksentrik, Brahe ditarik ke Praha (sekarang Republik Cheko), di mana Kaisar Roma Rudolph II menjadi patronnya. Di sini Brahe mendirikan observatorium di sebuah puri bergaya Bohemia dan melanjutkan penelitiannya. Ia dibantu oleh seorang asisten muda yang bernama Johannes Kepler yang kemudian terkenal dengan tiga hukumnya berdasarkan pengembangan dari pengamatan hasil Brahe[26].

Gambar dari manuskrip Tycho Brahe ini bisa diperoleh di http://galileo.rice.edu/sci/brahe.html

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين


[1] Lihat Q.S. al-Baqarah (2): 31-33

[2] ats-Tsa’labi, Muhammad bin Ibrahim an-Naysaburiy. Qishashul Anbiya. 2006. Beirut: Darul Kitab Ilmiyah. hal. 46.

[3] Yunus , Adil Thaha. Jejak-jejak Para Nabi Allah: Berdasarkan Fakta-Fakta Historis dan Temuan-temuan Arkeologis

 Modern . 2006. Bandung: Pustaka Hidayah. hal. 47

[4] Lihat Q.S. Maryam (19): 56-57

[5] Paham tentang struktur alam semesta yang bersifat rasional dan tidak diselubungi hal-hal yang berbau mitologis

[6] Admiranto, Agustinus Gunawan. Menjelajahi Tata Surya. 2009. Yogjakarta: Kanisius. hal. 2

[7] Ilmu Pengetahuan Populer. 2005. Jilid 1.  Jakarta: C.V.  Prima Pretiy,  Grolier International, INC. hal. 3-4

[8]  Wikipedia/Antropologi. Op. cit.

[9] Abdulgani, Sutarya. Bumi Antariksa Astronomi Untuk SMA. 1980. Bandung: Tarate. hal. 22

[10] Menjelajahi Tata Surya. Op. cit. hal. 2-3

[11] Ibid. Menjelajahi Tata Surya. hal. 3

[12] Plato mengungkapkan bahwa semua benda langit bergerak mengitari Bumi yang bulat dalam lintasan berbentuk lingkaran. Ia berpendapat bahwa lingkaran dan bola adalah bentuk geometri yang sempurna karena mereka semua diciptakan oleh makhluk paling sempurna, Tuhan. Seorang murid Plato, Eudoxus – mulai mengembangkan teorinya berdasarkan pengamatan benda-benda langit. Menurut Eudoxus, setiap Planet terletak pada bola-bola konsentris, dan pergerakan Planet disebabkan rotasi bola-bola ini berbeda-beda – efeknya adalah pergerakan Planet sebagaimana diamati Eudoxus, misalnya gerak retrograd (gerak maju mundur) Mars. Setelah Eudoxus, Aristoteles (350 SM) mengembangkan gagasan Eudoxus lebih jauh. Ia berpendirian bahwa Bumi merupakan pusat alam semesta dan menjadi titik pusat peredaran benda-benda langit seperti Matahari, Bulan, dan Planet-planet. Ia mengatakan bahwa alam semesta terdiri dari 55 buah bola sepusat, dan setiap bola menjadi tempat kedudukan satu benda langit. Bola-bola ini masing-masing berputar dengan kecepatan yang berbeda sehingga kadang-kadang ada yang kelihatan bergerak mundur untuk kemudian maju lagi seperti yang diamati pada Mars. Bola terluar dari ke-55 buah bola ini merupakan tempat kedudukan bintang yang tetap diam. Di luar sistem bola, terdapat penggerak utama sistem semesta – yang menurut Aristoteles dinamakan Primum Mobile. (Menjelajahi Tata Surya. Op. cit. hal. 3-4)

[13]  Strathern, Paul. The Big Idea: Galileo & the Solar System.  alih bahasa, Anderas Haryono; editor, Moch. Ridwan. SERI IDE BESAR Galileo & Sistem Tata Surya. Jakarta: Erlangga. 2002. Hal: 20

[14]   Sekarang kita mengetahui bahwa planet bergerak menurut bentuk elips – bentuk seperti lingkaran yang agak dipipihkan – ketika Planet-planet itu bergerak mengelilingi Matahari

[15] Menjelajahi Tata Surya. Op. cit. hal. 4-5

[16] Ilmu Pengetahuan Populer. Op. cit. hal. 4

[17] Kondisi dunia Timur abad pertengahan pada waktu itu bahwa dominasi agama dengan kekuasaan tidaklah terpisahkan. Para astronom Timur terkemuka seperti Hasan Ali Marakashi (abad ke-13), Abu Ali Birdjandi (abad ke-16) dan lain-lainnya berkali-kali menyatakan keheranannya, bahwa pada waktu para ilmuwan besar yang otoritas ilmiahnya tidak diragukan berada pada pihak geosentrisme dan menganggap bahwa Bumi tidak bergerak.

[18] Sadykov, Kh. U. Abu Raihan al-Biruni dan Karyanya dalam Astronomi dan Geografi Matematika.  Penyadur:Mursid Djokolelono, M.Sc. 2007. Jakarta: Suara Bebas. hal. 44-50

[19] Strathern, Paul. The Big Idea: Galileo & the Solar System.  alih bahasa, Anderas Haryono; editor, Moch. Ridwan.

SERI IDE BESAR Galileo & Sistem Tata Surya. Jakarta: Erlangga. 2002. Hal: 47
[20] Pekerjaan ringan ini menjanjikan penghasilan dan kesenangan untuk mewujudkan obsesinya di bidang astronomi. Sungguh aneh, baik observasi maupun ilmu matematikanya tidaklah mendalam. (Rata-rata ia melakukan observasi sekali

dalam satu tahun, dan penghitungannya tentang orbit planet ternyata keliru). Ibid. hal: 44-45.

[21] Zahoor, A. Dominasi Ilmuwan Islam Th. 700-1400 M. 2003. Terjemahan Amdiar Amir, SE. Depok: Bina Mitra Press. hal. 98

[22] Galileo & Sistem Tata Surya. Loc. cit. hal: 44

[23] Menjelajahi Tata Surya. Loc. cit. hal. 4-5

[24] Tycho Brahe sendiri adalah orang aneh. Ketika masih bayi, ia diculik oleh pamannya yang tidak punya anak, dan dibawa ke sebuah kastil yang terpencil di Denmark. Pada usia 12 tahun ia menyaksikan gerhana Matahari. Sejak saat itu ia bersumpah akan mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Sejak saat itu pula ia mempelajari ilmu pengetahuan dengan serius. Pada usia 19 tahun ia berkelahi untuk sebuah argumen matematika, dan waktu itu ia kehilangan hidungnya. Pengabdian ilmiah berikutnya ia lakukan dengan membuat hidung palsu yang terbuat dari perak yang ia desain untuk dirinya sendiri. Galileo & Sistem Tata Surya. Op. cit. hal: 49

[25] Ilmu Pengetahuan Populer. Op. cit. hal. 6

[26] Galileo & Sistem tata Surya. Loc. cit. hal: 50

Materi ini bisa didownload di sini  atau di sini berformat .pdf. Semoga bermanfaat…

13
Aug
11

Ta’rif Ilmu Falak

بسم الله الرحمن الرحيم

A.     Tinjauan Etimologi

            Ilmu Falak merupakan warisan salah satu disiplin ilmu pengetahuan tertua sejak manusia pertama kali membangun sebuah peradaban di muka Bumi dan sampai saat ini terus dipelajari dan dikembangkan dengan memadukan teknologi yang berkembang. Ilmu dan Falak merupakan musytaq[1] dari wazan (عَلِمَ – يَعْلَمُ- عِلْمًا) yang berarti ketahui dan ((فَلَكَ – يَفْلُكُ – فَلْكًا yang artinya bulat – sedangkan orang yang menekuninya disebut الفلكيّ (Falakiy/Astronom). Di dalam Bahasa Arab, kata الفلك sepadan dengan المدار yang artinya orbit[2].

            Ilmu Falak merupakan bentuk tarkib idhafi (frase) yang telah menjadi nama bagi suatu disiplin Ilmu Pengetahuan. Menurut etimologi terdiri dari mudhaf (علم) dan mudhaf ilayh (الفلك) sehingga kita harus memahami pengertian lafadl “علم” dan lafadl “الفلك” terlebih dahulu yang mempunyai arti:

العلم هو الاعتقاد الجازم الثابت المطابق للواقع {تاج العروس ۱: ۷۸۲۵}

Ilmu adalah keyakinan yang kuat dan sesuai dengan realitas sebenarnya.[3]

العلم مص. إدراك الشيئ بحقيقته. اليقين و المعرفة {المنجد}

Ilmu itu penghisapan. Hasil pencapaian sesuatu dengan hakikatnya. Yakin dan ma’rifat (pengetahuan yang pasti).[4]

 العلم هو إدراك الشيئ بحقيقته، ضربان: أحدهما إدراك ذات الشيئ. و الثانى الحكم على الشيئ بوجود شيئ هو موجود له أو نفي شيئ هو نفي عنه {مفردات فى غريب القرآن}

Ilmu ialah memahami satu hal dengan hakikatnya. Ada dua jenis persepsi: Pertama, untuk memahami suatu dzat dan yang kedua, untuk menilai kepada sesuatu dengan suatu wujud, yaitu bahwa tidak ada baginya atau menolak sesuatu untuk menolak.[5]

الفلك هو مجرى الكواكب و تسميته بذلك لكونه كالفلك {مفردات فى غريب القرآن}

Al-Falak adalah tempat beredarnya (berjalannya) benda-benda langit. Dinamai demikian karena bentuknya seperti falak (lingkaran).[6]

الفلك من البحر: موجه المستدير المتردد {المنجد}

Al-Falak : gelombang yang bulat secara berulang-ulang.[7]

            Singkatnya, Ilmu Falak dapat didefinisikan sebagai pengetahuan tentang hakikat lintasan benda-benda langit, yang berarti orbit.[8] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata orbit berarti jalan yang dilalui oleh benda langit digaris peredarannya mengelilingi benda langit lain.

B.    Tinjauan Terminologi

            Seorang ahli falak Persatuan Islam, al-Ustadz A. Ghazali mendefinisikan Ilmu Falak sebagai berikut: “Ilmu Falak ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari lintasan benda-benda langit seperti Matahari, Bulan, Bintang-bintang, dan benda-benda langit lainnya. Dalam Bahasa Inggris disebut PRACTICAL ASTRONOMI.”[9] Uum Jumsa menambahkan: “untuk diketahui suatu benda langit terhadap benda langit lainnya agar diketahui pengaruhnya terhadap perubahan waktu di Bumi.”[10]

            Definisi-definisi di atas mengarahkan ke alam semesta yang beredar menurut garis peredaran yang telah ditentukan oleh yang Mahapengatur. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata beredar adalah berjalan berkeliling (hingga sampai ke tempat permulaan).[11] Sebagaimana dijelaskan di dalam al-Qur’an surat al-Anbiya’ (21): 33 dan Yasin (36): 40.

هو الذى خلق الليل و النهار و الشمس و القمر كل فى فلك يسبحون ﴿الأنبياء (۲۱):۳۳ ﴾

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, Matahari dan Bulan mereka bertasbih pada falak (garis edarnya). (al-Anbiya’: 33)

لاالشمس ينبغى لها أن تدرك القمر و لاالليل سابق النهار و كل فى فلك يسبحون ﴿يس (٣٦): ٤٠﴾

Tidaklah mungkin bagi Matahari mengejar Bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, masing-masing bertasbih pada falak (beredar pada garis edarnya). (Yasin: 40)

Dari dua ayat inilah kalimat atau kata Falak diambil untuk menamai disiplin ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu perbintangan.

C.     Ruang Lingkup

            Dilihat dari definisi di atas, Ilmu Falak mengisyaratkan betapa luas dan kompleknya kajian yang dikaji – seluas jagat raya yang menghimpun mahkluk-makhluk Allah yang ada di luar angkasa yang saat ini belum bisa mengungkapkan batas alam semesta yang kita tinggali.

            Namun, salah satu ilmu pengetahuan yang paling berpengaruh di dalam Islam ini mulai terkikis karena adanya stagnasi ataupun dikotomi ilmu pengetahuan yang hanya berputar (produk daur ulang) dikalangan kaum muslimin tanpa adanya pengembangan dan penyelidikan lebih lanjut – sehingga Ilmu Falak dipersempit ruang lingkupnya hanya yang berkaitan dengan ibadah saja setelah perkembangan yang begitu menggairahkan di kalangan para Ilmuwan Islam dalam penyelidikan dan pengamatan. Dilihat dari garis besarnya, Ilmu Falak dibagi menjadi dua macam yaitu ilmu Falak ‘Ilmiy, dan ilmu Falak ‘Amaliy. Ilmu Falak ‘Ilmiy disebut juga Theoritical Astronomy.[12] Ilmu Falak ‘Amaliy disebut juga Practical Astronomy. Ilmu Falak ‘Amaliy inilah yang oleh masyarakat disebut sebagai Ilmu Falak atau Ilmu Hisab, sedangkan di bidang Astronomi mengalami kemajuan yang sangat pesat baik dari ranah teori maupun teknologi.[13]

Bahasan Ilmu Falak yang dipelajari dalam Islam adalah yang ada kaitannya dengan pelaksanaan ibadah, sehingga pada umumnya ilmu Falak ini mempelajari 4 bidang, yakni:

  1. Arah Kiblat dan Bayangannya (Rashdul Qiblat).
  2. Waktu-waktu Shalat.
  3. Penentuan Awal Bulan dan Akhir Bulan (shaum Ramadhan, Iydul Fithri pada bulan Syawal, dan Iydul Adha pada bulan Dzulhijjah).
  4. Penentuan Gerhana, baik Matahari maupun Bulan.

D.    Cabang-Cabang Ilmu dalam Perbintangan

Hisab at-Taisir

Pengetahuan tentang benda-benda langit dan peredarannya, perhitungan atas perjalanan Matahari dan Bulan, serta penentuan waktu dengannya, seperti waktu terbit Matahari, waktu Matahari berada di tengah, waktu tenggelamnya, waktu ijtima’ (konjungsi) Matahari – Bulan dan waktu terpisahnya, serta waktu gerhana Matahari dan gerhana Bulan.[14]

Ilmu Hisab (علم الحساب)

            Ilmu Hisab ialah ilmu yang mempelajari perhitungan posisi benda-benda langit yang diturunkan melalui perhitungan matematis dan astronomis khususnya untuk keperluan Ibadah.

Ilmu Rashd (علم الرصد)

Ilmu Rashd merupakan bagian dari Ilmu Falak, terkadang Ilmu Falak sendiri disebut Ilmu Rashd karena ilmu ini memerlukan pengamatan – rashd sendiri berarti pengamatan.

Ilmu Miqat (علم الميقات)

            Cabang lain dari Ilmu Falak adalah Ilmu Miqat,  karena ilmu ini berkaitan dengan batas-batas waktu shalat yang tidak terlepas dari batas-batas waktu pengamatan posisi Matahari. Arti dari Miqat sendiri adalah batas-batas waktu, seperti dijelaskan dalam kitab Shahih al-Bukhariy ada bab khusus (مواقت الصلاة و فصلها) yang menjelaskan tentang waktu-waktu shalat disertai dengan deskripsinya.

Ilmu Hai’at (علم الهيئة)

Hai’at, dulu ilmu ini disebut Ilmu Azyaj sebagai cabang dari Ilmu Hai’at. Dan juga populer digunakan untuk ilmu hitung atau aritmatika (al-Jabar), yakni ilmu yang membahas seluk-beluk aritmatika.[15]

Astronomi

Astronomi, secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari astro (άστρο) yang berarti bintang dan nomos (νόμος) yang berarti peraturan/hukum. Secara terminologi ialah ilmu yang mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik, dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar bumi) – juga proses yang melibatkan mereka. Singkatnya, mempelajari hukum-hukum perbintangan baik berupa gerakan dan kondisi fisik benda-benda langit. Tidak seperti astrologi yang memiliki pemahaman bahwa posisi benda-benda langit berpengaruh pada nasib kehidupan manusia di Bumi.

Astrofisika

            Penerapan Ilmu Fisika pada alam semesta secara keseluruhan, bukan hanya pada bintang. Selain bintang, ruang lingkup Astrofisika mencakup materi antar bintang, galaksi, quasar, dan kosmologi.

Kosmogoni

            Ilmu yang mempelajari tentang asal-usul alam semesta didasari filsafat dan kepercayaan (agama), bahkan ada ratusan dongeng yang isinya tidak ada yang serupa. Kemudian ilmu ini diperluas tidak hanya mempelajari tentang asal-usul alam semesta dan evolusinya tetapi diperluas meliputi alam semesta dan organisasinya yang mengarah pada teori dan pengamatan sehingga disebut Kosmologi yang berasal dari bahasa Yunani, Cosmos (alam semesta/ruang) dan Logos (bahasa). Singkatnya, kosmologi secara ilmu itu harus berdasarkan perhitungan dan observasi. Sama halnya perkembangan yang terjadi abad ke-18 yang mulai menyelidiki asal-usul tata surya kita Zonnestelsel dalam bahasa Belanda berarti Solar System dalam bahasa Inggris, seperti yang digagas oleh Kant-Laplace dengan “Teori Kabut”.

Kosmografi

            Ilmu yang mempelajari tentang pendataan berkaitan dengan jagat raya. Cosmos berarti alam semesta sedangkan Graphein berarti (menulis). Kosmografi merupakan bagian dari ilmu bintang yang mempelajari sifat-sifat langit perbintangan dengan benda-benda langitnya: Matahari, Bulan, Bintang-bintang, Planet-planet dan sebagainya tetapi benda-benda langit ini dipandang sebagai objek-objek yang amat kecil terhadap Jagat Raya yang sangat luas[16]. Ilmu ini biasa diberikan untuk ikhtisar umum astronomi atau biasa disebut Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa.

Astrobiologi

            Astrobiologi (kadang disebut juga eksobiologi, eksopaleontologi, bioastronomi, dan xenobiologi) adalah kajian tentang asal, evolusi, penyebaran, dan masa depan kehidupan di alam semesta. Bidang ilmu antardisiplin ini meliputi pencarian lingkungan laik huni baik di dalam maupun di luar Tata Surya (eksoplanet), pencarian bukti kimia prebiotik, kehidupan di Mars dan benda lain di Tata Surya, penelitian laboratorium dan lapangan perihal asal dan evolusi awal kehidupan di Bumi, serta kajian potensi makhluk hidup untuk beradaptasi di Bumi dan di luar angkasa.[17]

Arkeoastronomi

            Ilmu yang mempelajari mitos, legenda, kepercayaan, dan pandangan kehidupan-kehidupan kuno atau prasejarah di dunia dalam kaitannya dengan astronomi.

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين


[1] Suatu bentuk kata yang mempunyai akar kata (asal-usul/kata dasar). Dalam Bahasa Arab, kalimat disebut kata dalam Bahasa Indonesia.

[2] Al-Munawir, A. Warson. Kamus al-munawir. Lihat juga kamus al-‘Ashriy.

[3] Maktabah Syamilah

[4] Yasu’i, Abalweis Ma’luf. al-Munjid fil lughat. 1908. Beirut: Muthabi’atul Katsuulikiyyat. hal. 551

[5] Al-Asfahaniy, Raghib. Mufradat fiy Ghariybil Qur’an. hal. 348

[6]  Ibid. hal. 393

[7] al-Munjid fil lughat. Op. cit.

[8] Dalam bahasa Inggris (astronomi populer) Falak disebut dengan orbit.

[9] Ghozaly, Ali. Diktat Ilmu Hisab seri Mabadi. Cianjur: PPI 4. hal. 4

[10] Jumsa, Uum. Ilmu Falak, Panduan Praktis Menentukan Hilal. 2006. Bandung: Humaniora. hal. 1

[11] Pada satu waktu yang sangat panjang mengarungi alam semesta yang berjarak ratusan milyar tahun cahaya (1 detik cahaya = 3 x 105 km/detik), benda langit ini akan kembali pada titik semula.

[12]    Program studi Astronomi sendiri terdiri atas tiga bidang keahlian yaitu Tata Surya, Fisika Bintang, serta Galaksi dan Kosmologi. Pada proses perkuliahannya  akan mendapatkan banyak ilmu yang menarik seperti pada kuliah Lintasan Satelit yang lebih mengarah pada Astronautika, Pengantar Instrumentasi Astronomi yang memperkenalkan kemajuan teknologi instrumentasi dalam Astronomi, dan Sistem Kalender yang nantinya dapat digunakan juga untuk penentuan hilal, yaitu penentuan awal bulan pada sistem penanggalan Islam.

Pada bidang Tata Surya, teman-teman akan mempelajari sistem tata surya beserta ”anggota keluarga” nya. Termasuk juga diantaranya adalah planet, asteroid, planet kerdil, dan lain-lain. Dari pengetahuan tentang planet dapat diturunkan lagi ilmu-ilmu lain, diantaranya komposisi atmosfer planet dan satelit-satelitnya, hingga pencarian planet-planet di luar tata surya yang bisa dihuni.

Pada bidang Fisika Bintang kita mempelajari evolusi bintang, bagaimana bintang terbentuk dari lahir hingga mati, serta bagaimana spektrum bintang. Galaksi dan Kosmologi mencakup komposisi dan bentuk galaksi, materi antar bintang, quark hingga pengembangan alam semesta.

[14] Hai’ah Kibaril ‘Ulama. Ilmu ini juga disebut dengan Astronomi.

[15] Izzuddin, Ahmad. Fiqih Hisab Rukyah, Menyatukan NU dan Muhammadiyah dalam Penentuan Awal Ramadhan , Idul Fitri, dan Idul adha. 2007. Jakarta: Erlannga hal. 25

[16] Marsito. Azas-azas Kosmografi (Ilmu Falak). 1959. Jakarta: P.T. Pembangunan. hal. 9

02
Jul
11

Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal maupun Dzulhijjah

بسم الله الرحمن الرحيم

هو الذي جعل الشمس ضيآء و القمر نورا و قدره منازل لتعلموا عدد السنين و الحساب.

Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.{Q.S. Yunus: 5}

و القمر قدرنـــه منازل حتى عاد كالعرجون القديم. لاالشمس ينبغي لهآ أن تدرك القمر ولاالليل سابق النهار وكل فى فلك يسبحون.

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaranyang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. (39) tidaklah mungkin bagi Matahari mengejar Bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.{Q.S. Yasin: 39-40}.

Q.S. al-Baqarah: 189, Q.S. al-Isra’: 12, Q.S. al-An’am: 96, Q.S. ar-Rahman: 5, Q.S. ar- Ra’d: 2, Q.S. al-Anbiya:33, Q.S. at-Taubah:36 dsb.

عن محمد بن زياد قال سمعت أباهريرة رضي الله عنه يقول قال النبي صلى الله عليه وسلم أو قال أبو القاسم صلى الله عليه و سلم صوموا لرؤيته و أفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين {صحيح البخارى (كتاب الصوم): ٤٧٩}

Dari Muhammad bin Ziyad, ia mengatakan, “Saya mendengar Abu Hurayrah r.a. mengatakan Nabi S.A.W. bersabda atau Ia berkata, Abul Qasim S.A.W. bersabda ‘Shaumlah karena melihatnya (Hilal)dan berbukalah (Iyd) karena melihatnya. Apabila terhalang atas kalian, sempurnakanlah bilangan (bulan)Sya’ban menjadi tiga puluh.’” {Shahih al-Bukhari (Kitab Shaum): 479}[1].

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال إنا أمة أمية لانكتب و لانحسب الشهر هكذا و هكذا يعنى مرة تسعة و عسرين و مرة ثلاثين {صحيح البخارى (كتاب الصوم): ٤٧٩}

Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi S.A.W. sesungguhnya Beliau bersabda: “Sesungguhnya kami adalah umat yang Ummi, kami tidak pandai menulis dan berhitung. Sebulan itu begini dan begini. Maksudnya, kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari. {Shahih al-Bukhari (Kitab Shaum): 479}[2].

Pengertian berbagai metode Hisab yang populer di Indonesia:

Hisab Urfi : dalam bahasa arab, “Urfi” berarti kebiasaan atau kelaziman. Sistem perhitungan kalender yang didasarkan pada rata-rata Bulan mengelilingi Bumi dan ditetapkan secara konvensional[3].

Hisab Taqribi : dalam bahasa arab, “Taqrabu” berarti pendekatan. Sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematis, namun menggunakan rumus-rumus yang sederhana sehingga hasilnya kurang teliti[4]. Kitab Hisab Taqribi: Sulamun Nayirayn, Fathur Rauful Manan, al-Qawaidul Falakiyah.

Hisab Hakiki : “Haqiqi” berarti realitas atau yang sebenarnya. Sistem hisab hakiki ini sudah mulai menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematis serta rumus-rumus terbaru dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru sehingga memiliki tingkat ketelitian standar[5]. Kitab Hisab Hakiki: Hisab haqiqi, Tadzkiroh Al-ihwan Badi’ah Al-mitsal dan Menara Qudus An-nahij Al-hamidiyah Al-khuasial Wafiyah dsb.

Hisab Hakiki Tahkiki : Sistem hisab ini memakai metode perhitungan berdasarkan teori-teori astronomi modern dan ilmu ukur segitiga bola serta berdasarkan pengamatan baru[6]. Kitab Hisab Hakiki Tahkiki: al-falakiyah Nurul Anwar.

Hisab Hakiki Kontemporer : Hisab yang berdasarkan astronomi modern, matematika kontemporer, dan menggunakan alat-alat elektronika modern (software) koreksi-koreksi posisi Bulan dan Matahari lebih kompleks dan lebih teliti[7]. Kitab Hisab Hakiki Kontemporer: Jean Meeus, New Comb, Astronomical Almanac, Mawaqit Ascrip.

Faktor yang dominan dalam penampakan Hilal[8] adalah jarak sudut Bulan-Matahari dan tinggi Hilal saat Matahari terbenam. Orang-orang Babilonia kuno sudah memiliki kriteria sendiri untuk hal ini, bahwa Hilal dapat dilihat saat Hilal mencapai usia lebih dari 24 jam setelah konjungsi. Fotheringham, dengan menggunakan hasil pengamatan orang-orang Yunani, menurunkan kriteria visibilitas Hilal berdasarkan beda azimut Bulan-Matahari dan tinggi Hilal dari ufuk. Telaah Fotheringham ini kemudian dikembangkan oleh Maunder yang selanjutnya disempurnakan lagi dalam Indian Astronomical Ephemeris. Dari ketiga kriteria ini, untuk beda azimut yang membesar, tinggi Hilal dari ufuk yang diperlukan agar Hilal dapat teramati makin berkurang. Jadi tinggi Hilal untuk beda azimut 10 derajat, lebih rendah daripada tinggi hilal bila beda azimutnya 5 derajat.

Seorang berkebangsaan Prancis, A. Danjon, pada tahun 1932 mengadakan telaah atas pengurangan efek tanduk bulan sabit dan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jarak sudut Bulan-Matahari sebesar 7o merupakan batas bawah Hilal dapat teramati oleh mata bugil. Meskipun hasil di atas disempurnakan oleh M. Ilyas, peneliti berkebangsaan Malaysia, pada tahun 1988 yang menghasilkan angka 10,5 derajat untuk jarak sudut Bulan-Matahari pada beda azimut 0o agar Hilal dapat dilihat, keduanya sepakat untuk satu hal, bahwa hilal harus berada pada suatu ketinggian yang cukup untuk dapat dirukyat (diamati) oleh semua orang yang secara geografis berada dalam wilayah (regional) yang sama.

Kaidah penampakan Hilal dalam langit senja di ufuq Barat secara umum adalah: (1) Langit cerah atau cukup cerah berawan tipis (2) Waktu pengamatan telah melewati waktu konjungsi/ijtima’ (3) Waktu penampakan Hilal dalam senja nautika (jarak Zenith Matahari sekitar 95o atau 96o) (4) Pada saat Matahari terbenam dan bahkan Matahari mencapai jarak zenith sekitar 95 atau 96 derajat posisi Bulan masih harus di atas ufuq. Penampakan Hilal umumnya dalam langit senja nautika ketika kedudukan Matahari mencapai 5 atau 6 derajat di bawah ufuq atau di bawah horizon barat. Senja nautika di antara senja sipil dan senja astronomi (5)

Ukuran luas sabit Bulan sedemikian rupa sehingga bisa cukup terang dan mudah dideteksi oleh mata bugil manusia[9].

Pengamatan Pierce: Hilal termuda mempunyai usia 15 jam 33 menit pada tanggal 25 Februari 1990, pertama terlihat jam 23:55 UT[10]. Akan tetapi, umur Hilal termuda yang pernah atau berhasil dirukyat saat umur Hilal 13 jam 24 menit pada tanggal 5 Mei 1989 (6 Mei UT) di Houston, Texas, AS. oleh M. Iqbal Badat (beserta keluarganya) & Saleh al-Thani[11].

Berbagai pandangan mengenai kriteria dan prinsip Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal:

Kriteria Hisab:

  1. Ijtima’ Qabla Fajr
  2. Ijtima’ Qabla Ghurub.
  3. Wujudul Hilal 4. Imkanur Rukyat / Visibilitas Hilal: Kriteria Danjon, Istambul, Ilyas, termasuk LAPAN[12]:

- Beda tinggi Bulan – Matahari (Irtifa’) > 4o

- Jarak sudut Bulan – Matahari (Elongasi) > 6,4o

Prinsip:

  1. Rukyat Global
  2. Wihdatul Mathali
  3. Wilayatul Hukmi

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خير للإسلام والمسلمين



[1] Jumsa, Uum. 2006. Ilmu Falak Panduan Praktis Menentukan Hilal. Bandung: Humaniora. hal: 1

[3] Ibid.

[4] Ilmu Falak Panduan Praktis Menentukan Hilal. Loc. cit. hal: 5

[5] Ibid.

[6] Hilal adalah pantulan sinar Bulan ke Bumi yang berbentuk lengkungan yang sangat tipis pada hari pertama dan ke dua penanggalan bulan Hijriyah

[7] Raharto, Moedji. 2009. Ramadhan 1430 H 29 atau 30 Hari?. Bandung. Bosscha. Makalah ini disampaikan pada hari kamis 20 Agustus 2009 saat observasi Hilal di Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung

[8] Ibid.

[9] Djamaluddin, Thomas. 2006. Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman al-Qur’an. Bandung: Khazanah Intelektual.


[1] al-Bukhariy, Muhammad bin Isma’il. 2003. Shahih al-Bukhariy Kitab Shaum. Kairo: Maktabah Shorouq ad-Dauliyah hal. 479

[2] Ibid. Hal: 479

14
May
11

Aurora, Cahaya Kutub

بسم الله الرحمن الرحيم

Aurora, itulah nama sebuah fenomena yang terjadi akibat adanya interaksi antara partikel-partikel Matahari yang terjebak dalam medan magnet dan atmosfer Bumi yang mengalir turun sesuai dengan garis-garis medan magnetik Bumi ke kutub-kutub Bumi dan bertabrakan dengan atom nitrogen dan oksigen di atmosfer sehingga terjadinya badai geomagnetik yang menghasilkan tirai cahaya berwarna-warni di beberapa lokasi berlintang tinggi[1]. Penamaan Aurora sendiri diambil dari bahasa Yunani[2] yaitu Dewi Fajar Rom[3].

Partikel-partikel yang dilontarkan oleh Matahari disebut dengan Flare, Matahari merupakan sebuah bintang – yaitu bola plasma panas yang ditopang oleh gaya gravitasi. Di pusat Matahari (nomor 1), terjadi reaksi nuklir (fusi) yang mengubah 4 atom hidrogen menjadi 1 atom helium. Reaksi fusi tersebut, selain menghasilkan helium, juga menghasilkan energi dalam jumlah melimpah (ingat persamaan terkenal oleh Einstein: E=mc2). Energi yang dihasilkan, di pancarkan keluar melewati bagian-bagian Matahari, yaitu: zona radiatif (nomor 2), zona konventif (nomor 3), dan bagian atmosfer Matahari, yang terdiri dari fotosfer (nomor 4), kromosfer (nomor 5), dan korona (nomor 6). Dan badai Matahari adalah peristiwa yang berkaitan dengan bagian atmosfer Matahari tersebut.

Bagian terluar dari Matahari, yaitu korona, memiliki temperatur yang mencapai jutaan kelvin. Dengan temperatur yang tinggi tersebut, materi yang berada di korona Matahari memiliki energi kinetik yang besar. Tarikan gravitasi Matahari tidak cukup kuat untuk mempertahankan materi korona yang memiliki energi kinetik yang besar itu. Dan secara terus menerus, partikel bermuatan yang berasal dari korona, akan lepas keluar angkasa. Aliran partikel ini dikenal dengan nama angin matahari, yang terutama terdiri dari elektron dan proton dengan energi sekitar 1 keV. Setiap tahunnya, sebanyak 1012 ton materi korona lepas menjadi angin matahari, yang bergerak dengan kecepatan antara 200-700 km/s.

Berbeda dengan pusat Matahari yang relatif sederhana, bagian atmosfer Matahari relatif lebih rumit. Karena di atmosfer Matahari ini, medan magnetik Matahari berperan besar terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya. Ada berbagai fenomena menarik diamati di atmosfer Matahari berkaitan dengan medan magnetik Matahari, seperti bintik matahari (sun spot), ledakan Matahari (solar flare)[4], prominensa, dan pelontaran material korona (CME – Coronal Mass Ejection)[5]. Hal-hal inilah yang berkaitan dengan badai Matahari[6].

Ledakan yang terjadi di Matahari tersebut diklasifikasikan dalam beberapa kelas berdasarkan kecerlangannya pada panjang gelombang sinar-x antara 1 – 8 Angstroms. Setidaknya ada 3 klasifikasi utama dalam flare Matahari yakni :

  1. Flare kelas X, merupakan klasifikasi untuk ledakan yang paling besar dan dasyat yang terjadi di Matahari. Ledakan kelas ini bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada jaringan listrik karena transformator dalam jaringan listrik akan mengalami kelebihan muatan, gangguan telekomunikasi (merusak satelit, menyebabkan black-out frekuensi HF radio, dll), navigasi, menyebabkan korosi pada jaringan pipa bawah tanah dan terjadinya badai radiasi yang panjang di lapisan teratas atmosfer.
  2. Flare kelas-M, merupakan ledakan kelas menengah yang kekuatannya 1/10 dari energi fluks flare kelas X. Biasanya flare di kelas ini hanya meyebabkan terjadinya pemadaman (blackout) singkat pada frekuensi radio khususnya untuk area kutub dan badai radiasi yang minor.
  3. Flare kelas-C, jika dibandingkan dengan kelas M dan X, kelas C jelas merupakan flare yang terhitung berskala kecil dan hampir tidak memiliki akibat pada Bumi. Kekuatannya 1/10 energi fluks flare kelas M.

Kelas

Puncak (W/m2)antara 1 dan 8 Angstroms

B

I< 10-6

C

10-6 < = I < 10-5

M

10-5< = I < 10-4

X

I> = 10-4

Yang pasti, fenomena badai geomagnetik setelah terjadinya flare Matahari sebagai akibat interaksi medan magnetik Bumi dan materi bermuatan yang terlepas dari Matahari menyajikan keindahan tirai cahaya warna warni yang dikenal sebagai aurora di area kutub dan area lintang tinggi.

Singkatnya, badai Matahari adalah kejadian dimana aktifitas Matahari berinteraksi dengan magnetik Bumi. Badai Matahari ini berkaitan lansung dengan peristiwa solar flare dan CME. Kedua hal itulah yang menyebabkan terjadinya badai Matahari.

Beruntung, kita diberi magnet alami untuk menangkal partikel berenergi tinggi ini sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-Anbiya’: 32

وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا وَهُمْ عَنْ آَيَاتِهَا مُعْرِضُونَ

“Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah).”

Jika partikel bermuatan dipaksa melintasi medan magnetik maka ia akan diarahkan oleh medan magnetik Bumi, untuk bergerak sesuai dengan garis-garis medan magnetik Bumi, meninggalkan suatu daerah berbentuk komet di sekitar Bumi kita yang disebut magnetosfer menuju ke arah kutub utara dan kutub selatan magnetik Bumi sehingga suatu arus listrik (induksi) dapat dihasilkan melalui suatu kumpulan interaksi-interaksi yang kompleks, beberapa dari partikel-partikel bermuatan dapat menembus ke dalam magnetosfer ini berkumpul dalam beberapa zone di sekitar Bumi. Arus listrik yang dibangkitkan memberikan energi untuk mempercepat beberapa dari partikel-partikel ini kembali menuju Bumi, sejajar dengan garis-garis gaya magnetik yang berasal dari kutub-kutub magnetik utara dan selatan. Saat partikel-partikel energetik tersebut berbenturan dengan partikel udara dalam atmosfer Bumi, ia akan menyebabkan partikel udara (terutama nitrogen) terionisasi dan mengeksitasi atom-atom dan molekul-molekul lainnya ketingkat energi lebih tinggi (keadaan eksitasi). Ketika atom-atom dan molekul-molekul ini kembali ke keadaan dasarnya dengan cara membebaskan energi, atom-atom dan molekul-molekul ini memancarkan radiasi dengan panjang gelombang tertentu. Panjang gelombang-panjang gelombang cahaya tampak yang dipancarkan menghasilkan AURORA[7].

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين

Zaid Nasrullah


[2] Aurora yang terjadi di belahan utara dinamai Aurora Borealis sedangkan yang terjadi di selatan Aurora Australis.

[4] Ledakan di Matahari akibat terbukanya salah satu kumparan kumparan medan magnet permukaan Matahari. Ledakan ini melepaskan partikel berenergi tinggi dan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang sinar-x dan sinar gamma.

[5] Pelepasan material dari korona yang teramati sebagai letupan yang menyembur dari permukaan Matahari. Dalam semburan material korona ini, sekitar 2×1011 – 4×1013 kilogram material dilontarkan dengan energi sebesar 1022 – 6×1024 joule. Material ini dilontarkan dengan kecepatan mulai dari 20 km/s sampai 2000 km/s, dengan rata-rata kecepatan 350 km/s. Untuk mencapai Bumi, dibutuhkan waktu 1-3 hari

[6] Langitselatan. Loc. cit.

[7] Kanginan, Marthen. Fisika 2000 SMU kelas 2. 2003. Jakarta; Erlangga. hal 126-127.

08
Oct
10

Komet 103P/Hartley 2 Tampak di Langit Malam

بسم الله الرحمن الرحيم

Di bulan Oktober 2010 ini, sebuah komet akan nampak di langit malam. Komet periodik 103P/Hartley 2 ini merupakan komet kerdil yang masih muda dengan diameter inti komet janya 1,14 km.

103P/Hartley 2 yang dipotret wahana ruang angkasa Deep Impact 60 hari sebelum keduanya berada pada jarak terdekat. Kredit : Deep Impact/NASA

103P/Hartley 2 merupakan komet yang berasal dari keluarga komet Jupiter, yang rata-rata memiliki periode kurang dari 20 tahun. Komet yang ditemukan tahun 1986 ini memiliki periode orbit 6,3 tahun dan diperkirakan di masa lampau periode orbitnya jauh lebih panjang. Pada masa awal abad ke-20, diketahui periode orbit 103P/Hartley 2 9,3 tahun. Namun saat 103P/Hartley 2 mengalami pertemuan terdekat dengan Jupiter pada bulan Agustus 197 (pada jarak 0,22 SA) periodenya tereduksi menjadi 7,9 tahun. Dan pertemukan kembali dengan Jupiter di April 1971 pada jarak 0,09 SA kembali mereduksi periode komet ini menjadi 6,1 tahun.

Semenjak pertama kali ditemukan 103P/Hartley 2 selalu tampak di langit kala ia kembali melintas. Kembalinya 103P/Hartley 2 di tahun 2010 ini cukup unik karena ia akan melintas cukup dekat dengan Bumi pada jarak 0,12 SA pada tanggal 20 Oktober 2010 dan wahana ruang angkasa Deep Impact akan melintas 1000 km dari komet tersebut pada tanggal 4 November 2010.

Pada tanggal 8 Oktober 2010, komet 103P/Hartley 2 akan mengalami konjungsi menarik di langit, kala ia berada dekat dengan gugus ganda di rasi Perseus. Untuk bisa melihat kejadian ini dibutuhkan eyepiece teleskop dan binokular yang luas medan pandangnya.

Pada saat komet 103P/Hartley 2 berada pada posisi terdekatnya dengan Bumi ia akan tampak berada di rasi Perseus dan akan tampak dengan mata telanjang atau tanpa alat bantu di langit yang sangat gelap.  Namun dengan kondisi langit yang tidak gelap seperti di perkotaan, jelas dibutuhkan teleskop atau binokuler untuk bisa melihat komet 103P/Hartley 2.

Lintasan komet 103P/Hartley 2 dan EPOXI pada tanggal 20 Oktober 2010. Kredit : NEO JPL 

Delapan hari setelah posisi terdekatnya dengan Bumi, komet 103P/Hartley 2 akan berada pada perihelionnya atau titik terdekat dengan Matahari yakni 1,05 SA pada tanggal 28 Oktober 2010.

Untuk rekan-rekan yang tertarik untuk berburu komet 103P/Hartley 2, bisa mencari komet kerdil ini di arah timur laut tak jauh dari rasi Perseus di bulan Oktober ini. 103P/Hartley 2 akan memiliki kecerlangan pada kisaran 6  magnitud da

n pada saat berada dekat dengan Bumi kecerlangannya akan bertambah dan mencapai 5,55 magnitudo.

Posisi komet 103P/Hartley 2 pada tanggal 20 Oktober 2010 dilihat dari Bandung. kredit : stellarium
Jejak komet 103P/Hartley 2. Kredit : Seiichi Yoshida / aerith.net 

 

Sumber: Langit Selatan.

16
Aug
10

Pluto, Yang Tersisihkan

بسم الله الرحمن الرحيم

Angkasa luar ruang hampa tak bertepi yang rahasianya masih tak terungkap oleh Ilmu Pengetahuan. Susunan di antara ciptaan Allah yang tersebar di alam semesta ini berupa miliaran Galaksi, Bintang, Planet, Komet, Asteroid, Meteor dan benda angkasa lainnya tersusun dengan sangat rapih untuk menjaga keseimbangan alam semesta yang kita tempati. Salah satu keteraturan yang ada di alam semesta ini adalah Tata Surya kita yang mempunyai 8 Planet, puluhan Satelit, ratusan Komet, ribuan Asteroid dan Meteor serta ratusan ribu benda angkasa lainnya yang selalu setia berthawaf mengelilingi pusat Tata Surya yaitu Matahari kita.

Matahari sendiri mempunyai Planet yang kontrofersial sejak awal tahun 1990-an saat ditemukan benda angkasa lainnya kemudian seiring berjalannya waktu dan perkembangan astronomi modern berubah statusnya menjadi Dwarf Planet (Planet Katai). Namun ada juga yang tetap mempertahankannya sebagai Planet karena memiliki atmosfer, musim, dan bentuk bundar seperti layaknya Planet lain.

  1. Sejarah Penemuan

Kalau melihat sejarahnya, Pluto sebenarnya ditemukan lantaran adanya teori mengenai planet kesembilan dalam sistem Tata Surya Bimasakti yaitu Planet X. Posisinya telah diperkirakan dengan tepat sabelumnya oleh Percival Lowell karena penelitian Pluto didasarkan adanya gangguan pada Planet Uranus dan tidak cukup hanya karena adanya gerakan (pengaruh) dari Planet Neptunus. Tahun 1905 Astronom Amerika (William Pickering dan Percival Lowell) untuk pertama kalinya melakukan pengamatan dengan nama Planet X-nya. Setelah empat tahun tanpa hasil mereka melakukan pengamatan dengan survey langit fotografis sampai wafatnya Percival Lowell pada tahun 1916.

Pickering melanjutkan pencariannya dengan nama Planet O. Dia menghitung ulang perhitungan yang sebelumnya ketika melakukan penelitian bersama Lowell. Kemudian, dengan metode fotografislah dia melanjutkan penelitiannya sampai menyerah pada tahun 1929. Padahal dalam pencariannya Planet ini berhasil empat kali terekam di pelat potretnya namun Ia tidak tahu bahwa Ia berhasil menemukan Planet O itu[1].

Tetapi Planet Tombaugh (Pluto) lebih kecil dan lebih dekat ke Matahari dari yang diperkirakan oleh Lowell. Benda mungil ini pertama kali ditemukan di luar orbit Neptunus pada tanggal 18 Februari 1930 oleh Clyde William Tombaugh (1906-1997) seorang asisten di Observatorium Lowell di Flagstaff, Arizona[2] tempat Dia bekerja yang direkrut oleh seorang Direktur Observatorium (Dr. Vesto Slipher). Karena tidak mampu belajar ke Universitas, Dia membuat teleskop (Newtonian) sendiri untuk mempelajari Bintang dan Planet. Setelah Observatorium itu mendapatkan teleskop pantul (Reflektor) baru dengan diameter 33 cm dia menemukan planet kerdil aneh itu. Namun sebelumnya pada tahun 1929 Ia sudah berhasil memotretnya tetapi Ia tidak mengenali Planet ini karena dianggap sebuah bintang yang cahayanya lemah. Kemudian Ia menggunakan mesin bernama Blink Comparator[3] untuk menganalisis pelat-pelat potret hasil survey langitnya sehingga menemukan adanya cahaya/titik yang hilang atau berpindah di pelat potretnya selama dua hari berturt-turut [4].

  1. Penamaan

Pluto adalah Dewa dunia bawah tanah dari mitologi Romawi sedangkan dalam bahasa Yunaninya adalah Hades yang diusulkan oleh Venetia Burney[5] karena ketertarikannya pada mitologi kuno serta untuk menyeragamkan dengan nama-nama Dewa Romawi yang diberikan kepada planet lain.

Sebenarnya Astronom yang ada di Observatorium Lowell bebas memilih untuk menemai Planet baru tersebut dengan yang ada didaftar nama yaitu Minerva, Cronus, dan Pluto. Namun mereka lebih memilih Pluto ketimbang yang lain[6] karena dengan sebutan Minerva (Dewi Ilmu Pengetahuan) untuk menamai Planet baru tersebut sudah digunakan oleh hal yang lain. Namun sebelumnya nama Constante (Pendiri Observatorium Clyde W. Tombaugh bekerja yaitu Constante Lowell) pun pernah menjadi kandidat dalam penamaan Planet tersebut kemudian ditolak secara perlahan-lahan.[7] Karena ikut andil menamai Planet baru tersebut kemudian ia diberi uang sebesar 5 pon[8].

Nama resmi Pluto pun berhasil disandang oleh Minor Planet Center (MPC) dengan kode 134340. Nama ini diberikan setelah adanya keputusan mengeluarkan Pluto dari Planet menjadi Dwarf Planet (Planet Katai) sejak tahun 2006 silam atau selama 76 tahun lebih dunia menyebutnya dengan sebutan Planet Pluto.[9]

  1. Identitas Pluto

Hingga kini Pluto yang memiliki diameter sekitar 2.400 km (kurang dari seperlima diameter Bumi) dengan 0,002 kali massa Bumi (5,98 x 1024 kg) – bisa dibilang sebagai salah satu benda angkasa yang paling jarang diteliti manusia. Setelah tanggal 24 Agustus 2006, atau selama 3 tahun lebih menyandang status sebagai sebuah Planet Katai, setelah pengukuran merupakan Planet Katai terbesar ketiga setelah Eris yang 27% lebih besar diikuti oleh Xena, dan merupakan kesepuluh Planet Kerdil terbesar mengorbit Matahari – terdiri dari batuan dan es yang diduga ditangkap oleh gravitasi Matahari sehingga terus beredar seperti layaknya Planet lainnya.

Baru-baru ini para Ilmuwan hanya dapat memprediksikan lapisan atas dari atmosfer Pluto yang dapat dipelajari. dengan memanfaatkan peristiwa gerhana yang terjadi antara Pluto dan Charon,[10] Okultasi bintang (ESO 21/22) pada tahun 1985 yaitu fenomena yang terjadi apabila suatu anggota Tata Surya menghalangi cahaya latar belakang dari sebuah bintang sehingga observasi ini dapat memberikan gambaran mengenai temperatur dan tekanan atmosferik di dekat permukaan Pluto. kemudian mereka melakukan observasi terkini dengan menggunakan perangkat Cryogenic InfraRed Echelle Spectrograph (CRIRES) yang terpasang pada Very Large Telescope milik European Space Observatory (ESO)[11]. Sebagaimana benda angkasa lainnya Pluto memiliki susunan atmosfer, orbit, satelit dan lain-lain.

  • Atmosfer

Permukaan Pluto diyakini sebagai salah satu tempat terdingin di Tata Surya yaitu antara -2330C sampai -2230C. Pluto tertutup oleh gas metana yang membeku, dan memiliki atmosfer yang tersusun atas metana yang didominasi oleh Nitrogen sekitar 98% dan kemungkinan adanya Karbondioksida. Karena massa jenis Pluto rendah, para ilmuwan memperkirakan bahwa Pluto pada dasarnya adalah berbentuk es[12]. Bahkan ada yang meyakini Pluto memiliki sifat atmosfer yang paling asli semenjak memisahkan diri dari Matahari. Atmosfernya begitu tipis dan akan berbentuk gas jika seandainya berada hanya sedikit lebih dekat ke Matahari. Namun kenyaatannya atmosfernya menjadi lapisan es yang membeku karena saking jauhnya dari Matahari.[13] Pluto juga memiliki susunan atmosfer yang terdiri dari air dan Amoniak yang membeku.[14]

Para astronom memanfaatkan peristiwa okultasi bintang (ESO 21/22) kemudian berhasil menunjukkan bahwa lapisan atas dari atmosfer Pluto adalah berkisar -1700C, atau sekitar 500 lebih hangat daripada suhu di permukaannya. Berkebalikan dengan atmosfer di Bumi, di Pluto temperaturnya justru meningkat seiring bertambahnya ketinggian. Perubahan suhunya berkisar 3-150/km. Di Bumi, dalam kondisi normal temperatur berkurang sekitar 60 setiap km ketinggian. Namun uniknya, observasi terkini menggunakan pearangkat CRIRES yang terpasang pada Very Large Telescope – telah mengungkapkan bahwa atmosfer Pluto secara keseluruhan, bukan hanya lapisan atasnya memiliki suhu rata-rata -1800C. Dengan demikian “jauh lebih panas” dari pada suhu permukaannya. Observasi ini memberikan titik terang mengenai temperatur dan tekanan atmosferik di dekat permukaan Pluto. Tekanan atmosfernya hanya sekitar tekanan atmosfer Bumi, atau sekitar 0.015 milibar.[15]

Alasan mengapa permukaan Pluto sedemikian dingin berhubungan dengan eksistensi atmosfer Pluto, yakni karena terjadinya sublimasi es dipermukaan; menganalogikan dengan keringat yang mendinginkan tubuh saat menguap dari permukaan kulit kita, sublimasi ini memiliki efek pendinginan pada permukaan Pluto. Dari segi ini, Pluto memiliki sifat yang sama dengan komet, dimana bagian koma dan ekornya juga terbentuk dari es yang menyublin saat komet mendekati Matahari.

  • Orbit

Pluto sendiri yang mempunyai jarak rata-rata dari Mataharinya 39,46 SA, dengan orbit memanjang yang aneh memiliki perilaku lebih mirip objek Sabuk Kuiper dibanding sebuah planet. Lintasan edar revolusinya berbeda dari Planet-Planet lain, lintasannya tidak melingkar melainkan lonjong dan membentuk sudut kecondongan sebesar 17o terhadap lintasan edar Bumi. Orbit Pluto yang berbentuk elips tumpang- tindih dengan orbit Neptunus. Orbitnya terhadap Matahari terlalu melengkung dibandingkan delapan objek yang diklasifikasikan sebagai planet. Bahkan Pluto juga lebih kecil dari Bulan[16]. Ini mengakibatkan jarak Pluto ke Matahari berubah-ubah antara 4,45 miliar km hingga 7,38 miliar km. Dengan kondisi tersebut, Pluto dan Neptunus tidak akan bertabrakan. Namun jika kita mendekatkan Pluto ke Matahari lebih dekat dari 18 AU untuk satu sama lain, maka Pluto mirip dengan komet – itu dikarenakan rasio batu dan es antara Pluto dan komet hampir sama sehingga akan tumbuh ekor yang spektakuler sampai kehilangan massanya yang terbakar oleh ledakan Matahari.

Pluto biasanya lebih jauh dari Matahari daripada delapan planet lainnya – tetapi karena eksentrisitas dari orbitnya, hal itu lebih dekat daripada Neptunus selama 20 tahun keluar dari orbit 249 tahun dengan jarak terdekat mencapai 29,60 SA[17] sedangkan orbit Neptunus mencapai 30,10 SA. Pluto menyilang orbit Neptunus pada tanggal 21 Januari 1979 dan terus mendekat sehingga lebih dekat sampai 5 September 1989, dan tetap di dalam orbit Neptunus sampai 11 Februari 1999. Ini tidak akan terjadi lagi sampai September 2226[18].

Pluto yang jauhnya sekitar 39 kali jarak Bumi ke Matahari, atau dengan jarak rata-ratanya 5,87 x 109 km (3,647 x 109 mil), merupakan Planet Katai dalam susunan tata surya (walaupun pada suatu periode tertentu jaraknya ke matahari lebih dekat dibandingkan dengan Neptunus). Pluto pun berotasi selama 6,378 hari sama dengan satelit alami yang pertamanya yaitu Charon. Tidak seperti kebanyakan planet, tetapi mirip dengan Uranus, Pluto berputar dengan kutub hampir dalam orbit pesawat dengan sumbu rotasi 1220.

  • Satelit

Seorang Astronom Angkatan Laut Amerika Serikat James Christy menemukan satelit Pluto dengan menggunakan teleskop reflektor berdiameter 1,54 m. Ia menamainya dengan Charon[19] yang berdiameter 1.172 kilometer (728 mil) dengan jarak rata-ratanya 19.640 km (12.200 mil), pada tahun 1978 di Observatorium US Naval, Flagstaff[20]. Kemudian pada musim panas menyusul dua satelit Pluto baru ditemukan yaitu Hydra[21] dan Nix[22]pada tanggal 15 Mei 2005 setelah mempelajari gambar yang telah dipotret oleh sebuah tim Astronom (Max Mutchler dan Andres Steffl) mengunakan Teleskop Ruang Angkasa Hubble menemukan dua bulan sebelumnya tidak dikenal Pluto memiliki diameter hingga 100 mil (160 km) yang berenang diluar orbit Charon[23]. Pada awalnya Hydra dan Nix disebut S/2005 P1 dan S/2005 P2 untuk sementara, dan kemudian terakhir mereka diberi nama secara permanen pada tanggal 21 Juni 2006[24].

Hydra adalah satelit alami Pluto yang paling terluar jaraknya mencapai 65.000 km sehingga membutuhkan waktu 38 hari untuk menyelesaikan orbitnya. Tidak seperti satelit Pluto yang lain orbitnya hampir melingkar dengan sempurna[25].

  1. Kriteria Planet

Selama 76 tahun dari waktu penemuannya pada 1930-2006 itu dianggap sebagai planet kesembilan di tata surya, tetapi karena benda-benda tambahan[26] lainnya telah ditemukan termasuk Eris yang adalah 27% lebih besar sehingga IAU mereklasifikasi Pluto dan benda-benda lain sebagai planet kerdil.

Menurut mantan Direktur Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung, Dr. Taufiq Hidayat, keputusan Sidang Umum International Astronomical Union (Himpunan Astronomi Internasional) ke-26 yang dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 2006 di Praha, Republik Ceko adalah puncak perdebatan ilmiah dalam astronomi yang sudah berlangsung 1990-an lalu. Perdebatan tersebut dipicu berbagai penemuan baru yang menimbulkan keraguan apakah Pluto masih layak disebut planet atau tidak.

“Karakteristik Pluto memang berbeda dengan planet-planet lainnya. Bahkan komposisi kimianya lebih menyerupai komet daripada planet.” ungkap astronom yang mendalami bidang ilmu-ilmu planet ini[27]. Sidang Umum tersebut memutuskan Pluto tidak lagi dikelompokkan sebagai salah satu Planet di Tata Surya. Sidang itu menyatakan bahwa Pluto itu dikelompokkan sebagai ‘Dwarf Planets’ (Planet Kerdil) oleh kurang lebih 3000 Astronom dan itu pun diputuskan melalui pemungutan suara.

Resolusi 5A Sidang Umum IAU ke-26

  1. Mengorbit Matahari/bintang atau sisa-sisa bintang,
  2. Berukuran cukup besar sehingga mampu mempertahankan bentuknya yang bulat,
  3. Memiliki jalur orbit yang jelas dan bersih (tidak ada benda langit lain di orbit tersebut),
  4. Tidak terlalu besar hingga dapat menyebabkan fusi termonuklir terhadap Deuterium di intinya.

Berdasarkan definisi tersebut, Plutotidak dapat lagi disebut sebagai Planet karena tidak memenuhi syarat yang ketiga[28]. Sejak saat itu, lanjut Taufik, terjadi perbedaan pendapat di kalangan astronom. “Pilihannya adalah memasukkan Ceres, Charon, dan 2003 UB 313 ke dalam keluarga planet sehingga jumlah planet menjadi 12 – atau mengeluarkan Pluto. Akhirnya pilihan kedua yang disepakati.” tutur mantan Ketua Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung ini.

Beberapa pihak memprediksi debat mengenai status Pluto tidak akan berakhir di sini. Alan Stern, ketua misi pesawat ruang angkasa NASA senilai 700 juta dollar AS, New Horizon Probe, mengaku merasa “malu” terhadap keputusan itu. “Ini benar-benar sebuah definisi yang ceroboh. Ini belum selesai.” ujar Stern.[29]

Sehingga informasi Pluto dapat disimpulkan sebagai berikut:

Statistik Pluto
Ditemukan oleh Clyde W. Tombaugh
Tanggal penemuan 18 Februari 1930
Massa (kg) 1.27e 22
Massa (Bumi = 1) 2.125e-03
Equatorial radius (km) 1.137
Equatorial radius (Bumi = 1) 0,1783
Rata-rata kerapatan (g/cm3) 2,05
Jarak rata-rata dari matahari (km) 5.913.520.000
Satuan Astronomik (Bumi = 1)) 39,5294
Periode rotasi (hari) -6,3872
Periode Orbital (tahun) 248,54
Kecepatan orbital (km/sec) 4,74
Eksentrisitas orbital 0,2482
Kemiringan sumbu (derajat) 122,52
Orbital kecenderungan (derajat) 17,148
Gravitasi permukaan di Khatulistiwa (m/sec2) 0,4
Kecepatan Equatorial (km/sec) 1,22
Visual geometric albedo 0,3
Magnitudo Tampak (Vo) 15,12
Magnitudo Mutlak -0,7

Penelitian lebih lanjut sedang dilakukan dengan mengirimkan misi pesawat ruang angkasa tanpa awak NASA, New Horizon Probe yang diluncurkan ke Pluto lebih tepatnya pada 16 Januari 2006 lalu dan akan tiba di Pluto sekitar pada14 Juli 2015 untuk menyingkap Idenditas palanet kerdil aneh ini secara rinci[30]. Pesawat ini direncanakan akan melintasi Pluto dan Charon kemudian melanjutkan menuju Sabuk Kuiper.

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين

Zaid Nasrullah

Ketua


[1] Gunawan, A. Admiranto. Menjelajahi Tata Surya. 2009. Yogyakarta: Kanisius. hal. 246

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Pluto. 3 Feb 2010 5.47 am

[3] Mesin ini bisa membuat proyeksi pelat-pelat potret hasil pemotretan suatu daerah langit selama beberapa hari berturut-turut.

[4] Menjelajahi Tata Surya. Loc. cit. hal. 247

[5] Seorang gadis yang berusia 11 tahun sekolah di Oxford, Inggris.

[6] http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.universetoday.com/guide-to-space/pluto/

[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Pluto. Loc. cit.

[8] http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.universetoday.com/guide-to-space/pluto/. Loc. cit

[9] Pada 7 September 2006 nama Pluto diganti dengan kode, yaitu 134.340. kode ini diberikan oleh Minor Planet Center (MPC), organisasi resmi yang bertanggung jawab dalam mengumpulkan data tentang asteroid dan komet dalam tata surya kita.

[10] http://www.solarviews.com/eng/pluto.htm

[11] http://ias.dhani.org/2009/03/03/menyingkap-rahasia-atmosfer-pluto/

[12] Mahoney, Terry. Science Explained AstronomyDunia Sains Astronomi. 2003. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

[13] Poster KTK ar-Risalah. Penciptaan Alam Semesta dalam al-Qur’an dan Sains. Surakarta: C.V. ar-Rafah Group

[14] Menjelajahi Tata Surya. Op. cit. hal. 247

[15] http://ias.dhani.org/2009/03/03/menyingkap-rahasia-atmosfer-pluto/. Loc. cit.

[16] http://id.wikipedia.org/wiki/Pluto. OP. cit.

[17] SA (Satuan Astronomik), bahasa Inggrisnya AU (Astronomical Unit) di mana dalam satuannya berjarak 1,496 x 108 km.

[18] http://www.solarviews.com/eng/pluto.htm. Op. cit.

[19] Charon adalah nama tukang perahu tambang yang bertugas menyeberangkan arwah-arwah di sungai Styx setianya dalam dunia kegelapan yang dikuasai Pluto.

Menjelajahi Tata Surya. Op. cit. hal. 248

[20] Science Explained AstronomyDunia Sains Astronomi. Op. cit.

[21]Dewi malam dan kegelapan yang merupakan ibu dari Charon

[22] Binatang multiheaded yang menjaga perairan Pluto.

[23] http://www.nasa.gov/worldbook/pluto_worldbook.html

[24] http://www.universetoday.com/guide-to-space/pluto/

[25] Ibid. Nix bulan Pluto.

[26] Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil lain di belakang Neptunus (disebut objek trans-Neptunus) yang juga mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal sebagai objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari objek-objek trans-Neptunus hingga jarak 50 SA). Belasan benda langit termasuk dalam Objek Sabuk Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004).

Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Objek Sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan objek yang ditemukan oleh Michael Brown dari California Institute of Technology (Caltech) berkode 2003 UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama oleh penemunya dengan sebutan Xena. Selain lebih besar dari Pluto, objek ini juga memiliki satelit. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pluto)

[27]Kompas (27 Agustus 2006)

[28] Ilmu Pengetahuan Populer. 2003. Jakarta: PT. Ikrar Mandiri Abadi hal. 74

[29] Kompas. Loc. cit.

[30] Pluto worlbook. Loc.cit.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.